banner-sidebar
KaltimKubar

Sampah Jadi Masalah Serius di Kubar, Ini Tanggapan DLH!

Avatar
938
×

Sampah Jadi Masalah Serius di Kubar, Ini Tanggapan DLH!

Share this article
Petugas sedang mengambil sampah di TPS di Kutai Barat. Ft by Ist

Kaltimdaily.com, Kubar – Kutai Barat alias Kubar lagi dikejar waktu buat ninggalin sistem pengelolaan sampah yang udah gak relevan lagi. Kepala DLH Kubar, Ali Sadikin, buka-bukaan soal kenapa daerahnya masuk daftar 5 terburuk dalam urusan pengelolaan sampah versi DLH Kaltim. Bukan karena gak kerja, tapi karena proses transisinya yang emang gak semudah dibalik telapak tangan.

Ali bilang, Kubar masih pakai sistem “kumpul-angkut-buang” alias open dumping, yang sekarang udah gak boleh lagi secara regulasi. Tapi sekarang, DLH Kubar lagi ngebut pindah ke sistem sanitary landfill yang jauh lebih ramah lingkungan dan terkontrol. Proyeknya udah jalan ke tahap dua, dan pembangunan akses ke zona dua landfill-nya lagi dikebut bareng Dinas PUPR.

Walau alat-alat di lapangan udah uzur—ada ekskavator yang usianya udah tua banget dan bulldozer yang ngos-ngosan—tim DLH tetap ngotot buat nyelesein target. Tiap hari, Kubar harus beresin sekitar 30 ton sampah dari wilayah perkotaan, belum lagi kalau musim liburan yang volume sampah bisa naik gila-gilaan.

Masalahnya bukan cuma soal alat dan volume kerja, tapi juga soal BBM dan minimnya anggaran. Kadang kendaraan mogok di tengah jalan, tim harus muter otak biar tetap bisa operasi. Belum lagi, gak ada dukungan serius dari pusat dan provinsi soal penyuluhan atau program bantuan.

Ali juga curhat kalau evaluasi dari pusat cenderung cuma liat hasil akhir, bukan liat medan di lapangan. “Kalau hasil doang yang dilihat, ya kita selalu kelihatan jelek. Padahal usaha kita luar biasa,” katanya. DLH Kubar tetap yakin, meskipun deadline Oktober 2025 mepet, mereka tetap ngebut dan siap ajukan perpanjangan waktu kalau emang terpaksa.

Pemerintah Kubar butuh dukungan nyata, bukan cuma kritik angka. Harus ada sinergi dari pusat, provinsi, sampai masyarakat biar perubahan sistem pengelolaan sampah ini bener-bener berhasil. Karena ngubah budaya lama butuh proses panjang, apalagi kalau modal terbatas dan peralatannya pas-pasan.

Ali Sadikin tetap optimis. Ia percaya bahwa begitu sistem sanitary landfill ini resmi berjalan, wajah Kubar bakal berubah drastis. Bukan cuma soal lingkungan jadi lebih bersih, tapi juga bakal ngebuka banyak peluang ekonomi dan ningkatin kualitas hidup masyarakatnya. “Kami enggak tinggal diam. Kami bergerak,” tutupnya dengan semangat. (*)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih