banner-sidebar
Tekno

Persaingan AI Memanas! Baidu Siap Lawan OpenAI dan DeepSeek

Avatar
1974
×

Persaingan AI Memanas! Baidu Siap Lawan OpenAI dan DeepSeek

Share this article
Persaingan AI Memanas! Baidu Siap Lawan OpenAI dan DeepSeek
Baidu. Ft by CNBC

Kaltimdaily.com, Tekno – Raksasa teknologi asal Tiongkok, Baidu, siap mengguncang dunia dengan keputusan mengejutkan: mereka akan merilis model AI generatif Ernie secara open source. Langkah ini dianggap sebagai gebrakan terbesar dari sektor AI Tiongkok sejak kemunculan DeepSeek. Juru bicara Baidu memastikan bahwa proses open source ini akan dilakukan secara bertahap.

Langkah ini cukup mengejutkan karena sebelumnya Baidu dikenal mendukung sistem tertutup dan sempat menentang pendekatan open source. Namun, keberhasilan DeepSeek sebagai open-source disruptor bikin Baidu berubah haluan. Lian Jye Su, analis utama di Omdia, pernah bilang ke CNBC bahwa DeepSeek membuktikan model terbuka bisa sama kuat dan andalnya dengan yang tertutup.

Sean Ren, profesor dari University of Southern California sekaligus peneliti AI terbaik Samsung, bilang bahwa keputusan Baidu bukan cuma berdampak buat Tiongkok. “Setiap kali ada lab besar yang membuka kode model kuat mereka, itu otomatis menaikkan standar industri secara global,” ujarnya. Ia juga menyebut langkah ini bisa memberi tekanan besar bagi OpenAI dan Anthropic yang masih menjaga akses lewat API tertutup dan harga premium.

Menurut Alec Strasmore dari Epic Loot, keputusan Baidu ini seperti “lempar bom Molotov” ke dunia AI. Ia membandingkan langkah Baidu dengan strategi Costco: “Kalau yang lain jual champagne mahal, Baidu bawa versi Kirkland-nya yang kualitasnya sama, tapi gratis.” Ini bukan lagi persaingan biasa, tapi deklarasi perang harga!

Baidu mengklaim bahwa model ERNIE X1 mereka bisa menyaingi DeepSeek R1 dengan harga setengahnya. CEO Baidu, Robin Li, juga menekankan bahwa langkah ini dilakukan untuk mendukung pengembang global agar bisa bikin aplikasi AI terbaik tanpa harus pusing soal kemampuan model, biaya, atau alat pengembangan.

Namun, Cliff Jurkiewicz dari Phenom menyebut bahwa kabar ini mungkin nggak begitu heboh di AS. “Banyak orang bahkan gak tau Baidu itu perusahaan Tiongkok,” katanya. Ia juga membandingkan strategi open source seperti Android yang fleksibel tapi butuh banyak penyesuaian dibanding sistem Apple yang langsung ‘siap pakai’.

Meski terdengar ideal, banyak pihak masih was-was dengan isu keamanan. Jurkiewicz bilang bahwa perusahaan besar di AS tetap lebih dipercaya karena sudah terintegrasi dengan banyak sistem dan produk. Ia menyebut risiko yang muncul jika aplikasi global terhubung dengan API milik Baidu, terutama menyangkut keamanan data dan potensi akses dari pihak Tiongkok.

Ren juga mengingatkan bahwa sekadar membuka kode model gak menjamin transparansi. “Kita gak tau data latihannya apa, apakah datanya didapat dengan izin, atau apakah kontributor datanya dikompensasi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya akuntabilitas sebelum AI makin meresap ke kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, CEO OpenAI, Sam Altman, yang awalnya mendukung model tertutup, mulai terbuka soal open source. Dalam kesaksiannya di Senat AS, Altman bilang akan rilis model terbuka musim panas ini—meskipun akhirnya ditunda.

Langkah Baidu membuka akses model AI Ernie bisa jadi titik balik besar dalam sejarah perkembangan AI dunia. Selain membuka peluang bagi pengembang global, ini juga mengganggu dominasi pemain besar seperti OpenAI dan Anthropic dalam persaingan model AI. Terlebih lagi, jika kualitasnya benar-benar sebanding dengan model mahal, industri bisa berubah drastis.

Namun, di balik euforia tersebut, ada tantangan besar soal kepercayaan, keamanan, dan etika penggunaan data. Kalau dunia tidak segera menyiapkan regulasi dan pengawasan ketat, lonjakan AI open source justru bisa menimbulkan risiko baru yang lebih besar daripada manfaatnya. (*)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih