banner-sidebar
TeknoWellFy

Generasi Z Menggunakan AI untuk Cek Depresi: Dampak pada Kesehatan Mental

Avatar
1283
×

Generasi Z Menggunakan AI untuk Cek Depresi: Dampak pada Kesehatan Mental

Share this article
Generasi Z Menggunakan AI untuk Cek Depresi: Dampak pada Kesehatan Mental
Ai. Ft by ist

Kaltimdaily.com, Tekno – Dalam era digital yang berkembang pesat, penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas, termasuk dalam dunia kesehatan mental. Salah satu tren yang muncul adalah pemanfaatan alat seperti ChatGPT untuk mendiagnosis kondisi mental, terutama di kalangan generasi muda.

Meskipun AI menawarkan kemudahan dan aksesibilitas, banyak ahli kesehatan mental yang khawatir bahwa ketergantungan pada teknologi ini justru bisa berisiko dan membawa dampak negatif.

Dr. Kristiana Siste, seorang psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), mengingatkan bahwa AI tidak dirancang untuk memberikan diagnosis medis yang valid. Ia menjelaskan bahwa banyak generasi Z dan Alpha yang menggunakan teknologi ini untuk bertanya tentang kondisi kepribadian mereka, atau bahkan untuk mengecek apakah mereka menderita depresi. Masalahnya, AI tidak memiliki kemampuan untuk memahami konteks emosional atau memberikan penilaian yang sesuai dengan standar klinis yang berlaku.

Fenomena ini dipicu oleh keterbatasan komunikasi dalam keluarga, yang membuat para remaja merasa lebih nyaman berbicara dengan chatbot AI daripada dengan orang terdekat mereka. Namun, Dr. Siste menegaskan bahwa AI harus dipandang sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti interaksi manusia. Meskipun teknologi ini bisa digunakan untuk skrining awal, hasil yang diberikan sering kali tidak akurat dan dapat menyesatkan, bahkan memberikan informasi yang berlebihan atau keliru.

Salah satu risiko terbesar dari tren ini adalah self-diagnosis, di mana beberapa pengguna mengandalkan hasil “diagnosis” AI yang mereka dapatkan untuk mengobati diri mereka sendiri tanpa konsultasi dengan profesional kesehatan. Ini berbahaya karena banyak gejala yang mirip, namun memiliki penyebab yang berbeda, dan masing-masing memerlukan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi medis yang sebenarnya.

Selain itu, ketergantungan pada chatbot AI juga dapat menyebabkan isolasi sosial. Remaja yang merasa lebih dimengerti oleh AI daripada oleh manusia cenderung semakin menarik diri dari lingkungan sosial mereka. Padahal, interaksi sosial yang sehat sangat penting untuk menjaga kesehatan mental yang seimbang dan berkembang secara positif.

Dr. Siste menekankan bahwa AI sebaiknya hanya digunakan sebagai alat bantu yang dapat memberikan gambaran awal, bukan sebagai pengganti peran tenaga medis profesional. Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan keluarga dalam menjaga komunikasi yang terbuka dan sehat di rumah, yang menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.

Sebagai penutup, penting untuk dicatat bahwa meskipun teknologi memberikan kemudahan, tidak ada pengganti bagi interaksi manusia yang penuh empati dan pengawasan profesional. Pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatan harus bekerja sama untuk memastikan penggunaan AI dalam kesehatan mental tetap berada dalam koridor yang benar, memberikan manfaat, dan tidak menjadi alat yang justru menambah masalah bagi kesehatan mental remaja. (*)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih