banner-sidebar
ADVDPRD SamarindaKaltimSamarinda

Kekerasan Anak di Samarinda Jadi Sorotan, Ini Seruan Komisi IV DPRD

Avatar
942
×

Kekerasan Anak di Samarinda Jadi Sorotan, Ini Seruan Komisi IV DPRD

Share this article
Kekerasan Anak di Samarinda Jadi Sorotan, Ini Seruan Komisi IV DPRD
Kasus Kekerasan Anak. Ft by Ist

Kaltimdaily.com, Samarinda – Masalah kekerasan terhadap anak di Kota Samarinda ternyata belum bisa dianggap kelar.

Mulai dari pelecehan seksual, kekerasan fisik sampai psikis, kasusnya masih tinggi aja tiap tahun.

Dan yang bikin sedih, sebagian besar korbannya masih didominasi anak perempuan.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, angkat suara soal ini. Menurutnya, masalah kayak gini nggak bisa cuma diserahkan ke pemerintah.

Masyarakat juga harus ikut peduli, berani buka suara, dan lapor kalau ada tanda-tanda kekerasan.

“Kita emang nggak bisa ngawasin semua tempat, tapi setidaknya kita harus dorong biar korban berani buka suara. Itu udah jadi langkah awal penyelesaian,” tegas Sri Puji.

Yang lebih parah, masih banyak orang tua yang malah nutupin kasus kekerasan anak karena malu atau takut kena omongan tetangga. Padahal sikap kayak gitu malah bikin trauma anak makin dalam dan susah sembuh.

“Kalau anak kita jadi korban, jangan malah disimpan. Laporkan! Itu tanggung jawab kita sebagai orang tua,” tambahnya dengan nada tegas.

Sri Puji juga ngingetin pentingnya semua pihak, mulai dari aparat hukum, sekolah, sampai dinas-dinas terkait buat aktif turun ke lapangan.

Sekolah jangan lagi tutup-tutupi kalau ada kasus yang melibatkan gurunya sendiri.

“Kalau emang terbukti salah, ya harus kena sanksi tegas. Jangan cuma dipindah atau ditegur doang,” ucapnya lantang.

Dari data Simfoni PPA, tahun 2023 tercatat 189 kasus, lalu 2024 turun jadi 150. Tapi tahun 2025 baru sampai bulan Mei aja udah ada 87 kasus.

Jadi ya, penurunan jumlah belum tentu berarti kondisi membaik, karena jenis kasusnya masih itu-itu juga: dominan kekerasan seksual.

Sri Puji bilang, ini artinya akar masalah belum disentuh serius. Masih banyak banget masyarakat yang menganggap kekerasan anak itu urusan rumah tangga, bukan urusan publik. Padahal anak-anak butuh perlindungan total, dari rumah sampai ke ruang publik.

Ia berharap gerakan lawan kekerasan anak ini nggak cuma jadi slogan di atas kertas, tapi beneran jadi aksi nyata.

“Anak-anak kita butuh perlindungan, bukan pembiaran,” pungkasnya.

Semoga ke depannya makin banyak yang peduli, dan korban kekerasan anak nggak lagi merasa sendirian.

Yuk, kita bareng-bareng jaga masa depan anak-anak kita. Jangan sampai mereka tumbuh dengan luka yang nggak pernah disembuhkan. (ADV/DPRDSMR/YN)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih