Kaltimdaily.com, Samarinda – Kota Samarinda lagi-lagi diguncang musibah kebakaran dalam sehari penuh, Rabu (20/8/2025). Bukan cuma satu, tapi dua kebakaran langsung terjadi di lokasi berbeda, bikin warga panik sekaligus heboh.
Kejadian pertama berlangsung sekitar pukul 09.20 Wita di Kompleks Dosen Unmul, Jalan Pakis, Samarinda Ilir. Satu rumah tunggal ludes dilahap api. Dari info sementara, penyebabnya diduga kuat karena korsleting listrik yang bikin si jago merah cepat membesar dan susah dikendalikan.
Belum reda rasa kaget warga, malam harinya sekitar pukul 22.00 Wita, api kembali muncul di Jalan Delima. Saat tim relawan dan pemadam berusaha padamkan api, suasana sempat memanas gara-gara salah paham. Beberapa warga emosi karena mengira tim datang tanpa membawa air, melainkan cuma mesin pompa. Bahkan ada relawan hampir jadi korban amukan warga.
Salah satu relawan coba meluruskan masalah itu.
“Itu tadi dapat info dari teman, ada relawan yang hendak dipukul warga. Karena tidak membawa air tapi hanya bawa mesin. Ya namanya relawan, bawa mesin lah. Masa mau dipukul,” jelasnya.
Untungnya, keributan bisa diredam setelah polisi turun tangan menenangkan keadaan. Dengan kerja sama antara relawan, petugas pemadam, dan warga sekitar, api akhirnya berhasil dijinakkan sekitar pukul 22.45 Wita.
Dua musibah kebakaran di Samarinda di hari yang sama ini jadi alarm keras buat masyarakat. Bahaya korsleting listrik masih jadi pemicu utama, sehingga kewaspadaan ekstra perlu ditingkatkan. Selain itu, koordinasi dan komunikasi yang baik saat keadaan darurat sangat penting biar nggak ada salah paham yang bisa bikin situasi makin runyam.
Kebakaran di Samarinda kali ini bukan cuma soal rumah yang terbakar, tapi juga soal pentingnya solidaritas di tengah musibah. Relawan yang datang seharusnya mendapat dukungan penuh dari masyarakat, bukan malah jadi korban salah paham. Tanpa kolaborasi yang baik, proses pemadaman bisa terhambat dan justru memperbesar risiko.
Ke depan, pemerintah dan warga diharapkan bisa lebih aktif melakukan pencegahan, mulai dari pengecekan instalasi listrik secara rutin hingga simulasi penanganan darurat. Dengan kesadaran bersama, musibah kebakaran seperti yang melanda Samarinda bisa diminimalisir, dan kota ini bisa lebih aman bagi semua warganya. (*)

















