banner-sidebar
Kutai Kartanegara

Banjir Desa Semayang Kukar: Menghadapi Cuaca Tak Menentu dan Perubahan Pola Musim

Avatar
970
×

Banjir Desa Semayang Kukar: Menghadapi Cuaca Tak Menentu dan Perubahan Pola Musim

Share this article
Banjir Desa Semayang Kukar: Menghadapi Cuaca Tak Menentu dan Perubahan Pola Musim
Ilustrasi Banjir. Ft by ist

Kaltimdaily.com, Kukar – Desa-desa yang terletak di wilayah hulu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), khususnya Desa Semayang dan Desa Teluk Bingkai di Kecamatan Kenohan, terus menghadapi banjir tahunan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Meskipun fenomena ini sudah menjadi rutinitas, belakangan warga semakin kesulitan memprediksi kapan bencana alam tersebut akan terjadi.

Kepala Desa Semayang, Isra, mengungkapkan bahwa banjir di desanya biasanya terjadi satu hingga dua kali dalam setahun, meskipun intensitasnya tidak konsisten. “Kadang-kadang dua tahun tidak ada banjir, tapi ada kalanya banjir terjadi setiap tahun,” jelas Isra pada Minggu (7/12/2025).

Banjir terakhir yang terjadi pada awal tahun lalu bertepatan dengan pemungutan suara ulang (PSU). Namun, Isra menyatakan bahwa banjir tersebut tidak sebesar banjir besar yang terjadi beberapa dekade lalu. “Banjir kali ini masih lebih rendah dibandingkan dengan banjir besar yang pernah terjadi sebelumnya,” kata Isra.

Di Desa Semayang, banjir seringkali mencapai ketinggian 4 hingga 5 meter, dan hal ini memaksa warga untuk membangun rumah panggung dengan tiang setinggi minimal empat meter untuk menghindari genangan air. “Kami harus membangun rumah dengan tiang empat meter ke atas agar tidak kebanjiran,” tambah Isra.

Tantangan lainnya adalah akses ke Desa Semayang yang sering terputus saat banjir datang. Debit air yang tinggi menyebabkan jalanan terendam, memaksa warga untuk memarkir kendaraan mereka di Simpang Semayang, yang berjarak sekitar lima kilometer dari desa. “Jalan di sini sudah putus, rumah kami lebih tinggi dari jalan,” kata Isra.

Selain itu, perubahan pola cuaca menjadi salah satu tantangan yang membuat masyarakat Desa Semayang semakin sulit memprediksi kapan musim hujan atau kemarau akan tiba. “Dulu kami bisa tahu bulan-bulan tertentu akan banjir atau kemarau, tapi sekarang, kadang-kadang kemarau datangnya banjir, atau sebaliknya,” ungkap Isra.

Meski banjir sering terjadi, warga Desa Semayang tidak melakukan evakuasi karena rumah mereka telah dirancang untuk aman dari genangan air. Dengan kebiasaan dan penyesuaian terhadap kondisi alam setempat, masyarakat desa tetap dapat bertahan meskipun banjir datang setiap tahun.

Masyarakat di Desa Semayang menunjukkan daya tahan yang luar biasa, dengan membangun infrastruktur yang sesuai dengan kondisi alam yang tidak dapat diprediksi. Namun, tantangan yang dihadapi warga tetap besar, terutama dengan cuaca yang semakin tidak menentu. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk memperhatikan masalah penanggulangan bencana di wilayah ini, agar warga tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki solusi jangka panjang yang lebih aman dan efektif. (*)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih