Kaltimdaily.com, Kukar – Petani di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kini menikmati lonjakan hasil panen padi yang cukup signifikan setelah menerapkan teknologi pertanian modern. Rata-rata produksi padi mencapai 5 ton per hektare, bahkan di beberapa wilayah hasil panen dapat menembus 7 ton per hektare.
Peningkatan ini bukan hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan baik di tingkat lokal maupun regional.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Daerah Kukar, Bank Indonesia, serta Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Polnes).
Melalui kolaborasi ini, sejumlah inovasi seperti Bio-Invigorasi, Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), hingga sistem digital farming diperkenalkan kepada para petani. Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, memberikan apresiasi atas pencapaian ini karena berhasil menempatkan Kukar di posisi ketiga terbaik nasional dalam indeks ketahanan pangan.
Inovasi di lapangan terlihat jelas, mulai dari penggunaan drone sprayer untuk penyemprotan lahan hingga pemanfaatan benih unggul yang sesuai dengan karakteristik tanah setempat. Ketua Kelompok Tani Tenggarong Seberang, Karsono, menyebut teknologi ini sangat membantu. Drone sprayer mampu memangkas biaya operasional sekaligus mempercepat pekerjaan, sementara benih berbasis Bio-Invigorasi mampu meningkatkan hasil panen lebih maksimal.
Berdasarkan data Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, penerapan teknologi modern mampu meningkatkan hasil panen rata-rata hingga 74 persen. Sebagai contoh, Gapoktan Bukit Biru mencatat hasil panen sebesar 5,3 ton per hektare, sedangkan di Desa Suka Maju hasil panen bahkan mencapai 7,23 ton per hektare.
Direktur Polnes, Hamka, menyatakan bahwa inovasi ini tidak hanya menguntungkan dari sisi produktivitas, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan petani serta memperkuat ketahanan pangan Kalimantan Timur.
Saat ini, sekitar 13.000 hektare lahan sawah di Kukar atau sepertiga dari total lahan pertanian Kaltim telah terdampak positif dari penerapan teknologi pertanian modern. Para petani berharap program modernisasi pertanian ini dapat terus berlanjut serta menjangkau lebih banyak kelompok tani, agar manfaat digital farming dan sistem berkelanjutan dapat dirasakan secara lebih luas. Dukungan pemerintah dan Bank Indonesia dinilai sangat penting untuk menjaga keberlanjutan program ini.
Keberhasilan penerapan teknologi pertanian di Kukar membuktikan bahwa inovasi menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Jika program modernisasi dapat terus berjalan secara konsisten, Kukar berpotensi tumbuh sebagai lumbung pangan utama Kalimantan Timur dan menjadi motor penggerak ketahanan pangan nasional.
Lebih jauh, keberhasilan Kukar juga dapat menjadi model percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Dengan strategi yang tepat, kolaborasi multipihak, dan pemanfaatan teknologi modern, ketahanan pangan nasional bukan sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan secara nyata. Harapan ke depan, langkah ini tidak hanya memperkuat sektor pertanian, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. (*)

















