Kaltimdaily.com, Bontang — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul munculnya sejumlah kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur sepanjang Agustus 2026.
Salah satu kejadian Karhutla dilaporkan terjadi di kawasan Sekambing, Kelurahan Bontang Lestari (Bonles). Meski belum ditemukan dampak langsung terhadap kondisi kesehatan masyarakat, pemerintah tetap meminta warga melakukan langkah pencegahan.
Kepala Dinkes Kota Bontang, drg. Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan kondisi musim kemarau saat ini menjadi perhatian serius. Terlebih, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi Karhutla di sejumlah wilayah.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa dampak kebakaran tidak hanya dilihat dari kejadian api, tetapi juga potensi penyebaran asap yang dapat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan warga.
“Bontang memang perlu meningkatkan kewaspadaan, karena sepanjang Agustus 2026 ini sudah terjadi beberapa kejadian Karhutla di beberapa daerah, salah satunya di Sekambing (Bontang Lestari),” ujar drg. Toetoek saat dikonfirmasi, Rabu (26/8/2026).
Dinkes Bontang menjelaskan, peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tidak dapat langsung dikaitkan dengan kejadian Karhutla. Sebab, penyakit tersebut dipengaruhi berbagai faktor dan membutuhkan analisis berdasarkan data kesehatan serta kondisi lingkungan.
Berdasarkan pemantauan Dinkes Bontang, jumlah kasus ISPA saat ini masih berada dalam pola yang relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Untuk memastikan adanya pengaruh asap kebakaran, diperlukan kajian menyeluruh yang mencakup data kunjungan pasien di seluruh Puskesmas, kualitas udara atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), arah angin, hingga kecepatan angin.
Selain itu, pemerintah juga perlu melihat hubungan antara lokasi kebakaran dengan wilayah pelayanan fasilitas kesehatan serta pola penyebaran kasus gangguan pernapasan yang terjadi di masyarakat.
Kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan menjadi kelompok yang harus mendapatkan perhatian lebih apabila kualitas udara mengalami penurunan.
“Perlu hati-hati menginterpretasikan antara Karhutla dengan ISPA. ISPA memiliki banyak faktor penyebab, bukan hanya asap Karhutla saja,” jelasnya.
Dinkes Bontang menyebutkan, potensi dampak kesehatan akibat Karhutla akan semakin terlihat apabila kebakaran berlangsung dalam waktu lama, sekitar tiga hingga tujuh hari, disertai penurunan kualitas udara yang signifikan dan meningkatnya jumlah penderita ISPA di wilayah terdampak asap.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat Bontang diminta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Warga juga dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas, memperbanyak konsumsi air putih, serta menutup ventilasi rumah apabila asap mulai masuk ke lingkungan tempat tinggal.
Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala berat seperti sesak napas, napas cepat, nyeri dada, atau kondisi kesehatan yang terus menurun.
Sementara itu, Dinkes Kota Bontang belum melakukan pembagian masker kepada masyarakat. Kebijakan tersebut belum diterapkan karena hingga saat ini belum terdapat indikasi penurunan kualitas udara di Bontang yang disebabkan oleh Karhutla.
“Belum ada pembagian masker, karena belum ada indikasi penurunan kualitas udara akibat Karhutla,” kata drg. Toetoek.
Pemerintah Kota Bontang melalui Dinkes akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan potensi dampak Karhutla dapat ditangani sejak dini.
Masyarakat juga diharapkan berperan aktif dengan melaporkan apabila menemukan kejadian kebakaran lahan maupun perubahan kondisi udara di lingkungan sekitar. Kewaspadaan bersama menjadi kunci dalam mencegah dampak yang lebih luas.
Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi kering, kesiapsiagaan seluruh pihak menjadi hal penting. Pemerintah memastikan pemantauan kesehatan dan lingkungan di Kota Bontang terus dilakukan sebagai upaya menjaga keselamatan masyarakat. (*)















