banner-sidebar
Bontang

Sengketa Sidrap: Kutim vs Bontang Belum Ada Titik Temu

Avatar
1176
×

Sengketa Sidrap: Kutim vs Bontang Belum Ada Titik Temu

Share this article
Warga Sidrap. Ft by Ist

Kaltimdaily.com, Bontang – Drama sengketa tapal batas antara Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Kota Bontang soal wilayah Sidrap lagi-lagi belum kelar. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) masih nunggu laporan resmi dari tim survei yang sekarang lagi turun langsung buat memetakan ulang batas wilayah sesuai putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal, bilang kalau pihaknya belum bisa ngasih laporan ke MK karena tim di lapangan belum selesai kerja. Nanti kalau udah beres, hasil surveinya langsung dikirim buat jadi bahan putusan resmi.

Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Timur, Rudi Mas’ud, sempat jadi penengah lewat mediasi pada Senin (11/8/2025). Tapi, bukannya nemuin titik temu, pertemuan itu malah berakhir tanpa kesepakatan. Kata Rudi, secara hukum (de jure) Sidrap masuk wilayah Kutai Timur, tapi di lapangan (de facto), pelayanan publik di Sidrap lebih banyak dipegang Pemerintah Kota Bontang.

Masalah ini udah lama banget berlarut-larut. Banyak warga Sidrap yang punya KTP Kutai Timur, tapi kalau mau berobat atau ngurus administrasi, mereka lebih milih ke Bontang karena lebih dekat dan gampang diakses. Alhasil, dua pemerintah daerah ini sering gesekan soal kewenangan dan biaya pelayanan publik.

Rudi bilang semua pihak udah diajak duduk bareng, tapi tetap aja nggak ada yang mau ngalah. “Hasil mediasi ini kita sepakat untuk tidak sepakat,” ucapnya, sambil memastikan masalah ini bakal lanjut lewat jalur hukum di MK.

Buat Rudi, ini bukan cuma soal garis di peta, tapi juga tentang hak dasar warga Sidrap buat dapetin pelayanan publik yang maksimal. Dia berharap putusan MK nanti bisa bikin masalah ini kelar sekali untuk selamanya.

Kalau sengketa Sidrap ini dibiarkan berlarut, warga bakal terus terjebak di tengah tarik ulur dua daerah. Padahal, mereka cuma pengin hidup nyaman tanpa ribet mikirin status administrasi.

Semua mata sekarang tertuju ke MK. Keputusan yang diambil nanti bakal jadi penentu nasib Sidrap ke depan—apakah tetap di bawah Kutai Timur, pindah ke Bontang, atau ada skema khusus yang bisa bikin kedua belah pihak sama-sama puas. Yang jelas, warga Sidrap cuma mau satu hal: pelayanan publik yang lancar tanpa drama politik. (*)

Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih