Balikpapan Dihebohin! Beras Oplosan Dijual Mahal Padahal Mutu Di Bawah Standard
Kaltimdaily.com, Balikpapan – Warga Balikpapan mesti waspada nih!
Satgas Pangan Polda Kaltim baru aja ngungkap peredaran beras oplosan yang dijual dengan label premium, padahal kualitasnya jauh dari kata layak.
Penemuan ini jadi respons langsung dari instruksi Presiden Prabowo Subianto yang minta pengawasan ketat di sektor pangan, terutama beras.
Setelah diselidiki, ternyata beras dari CV SD yang mereknya Rambutan dan Mawar Sejati itu gak sesuai standar mutu.
Total 4 ton beras langsung disita sebagai barang bukti. Kabid Dinas Pangan Kaltim, Amaylia Dina Widyastuti bilang, beras Rambutan malah masuk kategori sub-medium alias di bawah standar medium, apalagi premium.
Sedangkan beras Mawar Sejati, kata Dina, kadar butir patahnya sampai 15,78 persen.
Padahal, batas maksimal buat beras premium cuma 15 persen. Jadi otomatis beras ini cuma layak disebut medium. Waduh, bisa rugi deh konsumen kalau gak tahu!
Plt Kabid Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Disperindag Kaltim, Asep Nuzuludin, bilang pihaknya udah ngelakuin uji mutu ke 21 merek beras lain di lapangan.
Uji lab ini digelar di Samarinda dan Balikpapan buat pastiin kualitasnya bener-bener aman buat masyarakat.
Sementara itu, Dirreskrimsus Polda Kaltim, Kombes Pol Bambang Yogo Pamungkas, nambahin info penting lainnya. Katanya, bukan cuma kualitas yang gak sesuai, tapi harga beras oplosan ini juga kelewat batas!
Harusnya HET beras premium di Kalimantan itu Rp15.400/kg, eh ini dijual sampai Rp16.400/kg. Padahal, mutunya jelas-jelas gak layak disebut premium. Ngeselin banget, kan?
Kasus beras oplosan ini jadi warning keras buat para pelaku usaha agar gak main-main sama hak konsumen. Masyarakat pun diimbau lebih teliti sebelum beli, jangan asal tergiur label “premium”.
Pemerintah daerah dan aparat juga diharapkan makin gencar mengawasi peredaran pangan, biar kejadian serupa gak kejadian lagi.
Soalnya, ini bukan cuma soal harga, tapi juga soal keamanan dan keadilan buat rakyat kecil yang udah susah payah beli kebutuhan pokok. (*)

















