Kaltimdaily.com, Balikpapan – Udah tiga tahun pandemi lewat, tapi efeknya masih berasa banget, bro. Salah satunya ya soal minat baca warga Balikpapan yang makin geser ke arah digital. Gramedia Plaza Balikpapan jadi saksi hidup gimana pembelian buku fisik makin sepi. Orang-orang sekarang lebih suka baca dari HP, katanya lebih simpel dan murah.
Noval Dhania Al-Hadi, Supervisor Gramedia Balikpapan, bilang kalo tren ini udah mulai keliatan sejak awal COVID-19. Buku-buku santai kayak novel, komik, atau self-improvement sekarang kalah pamor sama versi digital. “Minat baca buku fisik emang turun. Sekarang rata-rata baca dari HP karena lebih praktis dan hemat,” ungkap Noval, Minggu (20 Juli 2025).
Digitalisasi emang nggak main-main. Banyak pelanggan sekarang lebih milih belanja lewat marketplace ketimbang mampir langsung ke toko. “Sebelum pandemi, orang masih datang. Sekarang mereka lebih suka beli online, bisa bandingin harga dan dapet ongkir gratis,” tambah Noval.
Meski begitu, pas momen PPDB 2025, pengunjung Gramedia sempat naik gara-gara banyak yang belanja alat tulis dan perlengkapan sekolah. Tapi ya, itu cuma efek musiman. Buku bacaan tetap belum jadi primadona. Produk stationery malah jadi andalan penjualan sekarang.
Gramedia pun nggak tinggal diam. Mereka makin gencar promosi di Gramedia Digital dan Gramedia.com. “Diskonnya kadang malah lebih gede dari toko offline, bisa sampai 30 persen. Tapi sayangnya belum banyak yang tahu,” kata Noval.
Selain aktif online, Gramedia Plaza Balikpapan juga rajin ngadain event biar toko tetap rame. Ada potongan harga langsung buat ATK, sampai acara edukatif kayak Fun Schooling buat anak TK-SD. Buat remaja dan mahasiswa, mereka sering kerjasama sama sekolah, kampus, sampai komunitas lewat pameran dan event bareng.
“Kami pengin masyarakat lihat Gramedia bukan cuma tempat belanja, tapi juga jadi ruang buat edukasi dan kreativitas,” jelas Noval. Kolaborasi sama sekolah dan komunitas terus digenjot buat jaga eksistensi toko fisik.
Sayangnya, persaingan makin ketat. Sekarang banyak penerbit jualan langsung lewat e-commerce, jadi Gramedia mesti makin kreatif biar nggak kalah saing. “Nggak bisa cuma nunggu orang datang ke toko. Kita harus jemput bola,” tegas Noval ke Nomorsatukaltim.
Masalah lain? Banyak pelanggan belum sadar kalau Gramedia punya promo dan layanan digital yang kece banget. “Masih banyak yang belum tahu soal promo eksklusif di aplikasi Gramedia Digital. Padahal banyak banget untungnya,” tutup Noval.
Tren minat baca emang udah berubah, tapi bukan berarti buku fisik nggak punya harapan. Dengan strategi hybrid—online dan offline—Gramedia mencoba tetap relevan dan dekat sama masyarakat, apalagi anak muda yang jadi target utama literasi masa kini.
Perubahan ini juga jadi alarm buat semua pihak bahwa melek literasi nggak cuma soal baca buku, tapi juga soal gimana caranya tetap menjadikan budaya baca sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, di tengah dunia digital yang makin dinamis. (*)

















