banner-sidebar
KaltimSamarinda

Hari Anti Tambang 2025: Lawan Ekstraktivisme, Jaga Bumi Kita!

Avatar
1057
×

Hari Anti Tambang 2025: Lawan Ekstraktivisme, Jaga Bumi Kita!

Share this article
Hari Anti Tambang 2025: Lawan Ekstraktivisme, Jaga Bumi Kita!
Peringatan Hari Tambang 2025 di Kaltim. Ft by Yana

Kaltimdaily.com, Samarinda – Peringatan Hari Anti Tambang (HATAM) 2025 di Kalimantan Timur nggak cuma jadi seremoni, tapi jadi ajang gebrakan buat suarain bahaya sistem ekonomi ekstraktif yang makin menggila.

Rabu (28/5/2025), berbagai komunitas rakyat turun tangan bareng-bareng, ngangkat tema: “Ekstraktivisme adalah Sistem Bunuh Diri” buat nyadarin publik kalau perampasan alam besar-besaran itu bukan solusi, tapi jalan cepat ke kehancuran bareng-bareng.

Ekstraktivisme bukan cuma sekadar kebijakan, tapi sistem yang bikin bumi rusak, manusia sengsara, dan segelintir elit makin tajir. Tambang jadi aktor utamanya—jalanin ekonomi dengan cara korup dan sewenang-wenang.

Bahkan transisi energi yang katanya solusi iklim, ujung-ujungnya tetap merampas dan ninggalin luka ekologis yang makin dalam.

Program besar kayak Asta Cita-nya pemerintahan Prabowo juga kena sorotan. Di balik embel-embel solusi, rakyat justru dibikin bayar mahal: dari kerusakan lingkungan, kriminalisasi warga, sampai kehilangan nyawa.

Contohnya, 11 warga adat Maba Sangaji sampai hari ini masih ditahan cuma karena berani bela sungai mereka dari tambang yang mencemari.

Sejak 2019, tambang dan politik makin mesra. UU diubah demi lancarin jalan tambang.

Proyek-proyek gede kayak IKN, PLTA Kaltara, sampai tambang nikel dijalankan atas nama “ekonomi hijau”—padahal yang terjadi cuma rusaknya hutan, tanah longsor, banjir bandang, dan rakyat makin miskin.

Bukti kekacauan bisa dilihat langsung di Kaltim: korupsi dana reklamasi tambang capai Rp13,12 miliar, dan kerusakan lingkungannya ditaksir sampai Rp58,54 miliar.

Tapi, penegakan hukum? Masih jauh panggang dari api. Tambang ilegal bebas jalan di jalan umum, pelabuhan umum dipakai seenaknya, nyawa melayang, dan negara diam aja.

Lebih parah lagi, aparat malah sering dipakai buat lindungin tambang dari suara rakyat.

Kekerasan terhadap warga, jurnalis, bahkan anak-anak dan perempuan makin sering. Mereka semua jadi korban dalam tragedi yang terus disembunyikan.

Tapi warga nggak tinggal diam. Dari spanduk di Batu Kajang dan Muara Kate, mural di “tembok pisang” Sanga-Sanga, sampai program ekowisata di Sumber Sari, perlawanan hidup.

Mereka buktiin kalau hidup tanpa tambang itu mungkin—dan jauh lebih bermartabat. Lewat ekonomi tanding kayak jualan sayur sawi dan budidaya ikan nila, masyarakat bangun jalan alternatif yang lebih sehat dan manusiawi.

Peringatan Hari Anti Tambang 2025 ini jadi titik balik buat suarain tiga hal: kami menolak diekstraksi, kami menolak dilupakan, dan kami menolak mati perlahan karena sistem yang rakus dan nggak adil.

Dengan semangat ini, masyarakat ngasih ultimatum tegas:

  1. Segera pulihkan lingkungan Kalimantan Timur dari pencemaran.
  2. Tindak tegas pelaku pelanggaran tambang, reklamasi, dan korupsi SDA.
  3. Lindungi rakyat yang bela hak atas hidup sehat dan lingkungan bersih.
  4. Hentikan seluruh proyek ekstraktif yang nggak adil dan destruktif.

Sekarang waktunya bangkit dan nyuarain bahwa bumi ini bukan buat dieksploitasi, tapi buat diwarisin ke generasi selanjutnya. Hari Anti Tambang bukan cuma peringatan, tapi perlawanan yang nyata. (*)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih