Kaltimdaily.com, Samarinda – Hujan dari pagi gak bikin semangat warga Samarinda luntur buat datang ke Festival Budaya Dayak Kenyah 2025 di Desa Budaya Pampang, RT 03 Samarinda. Gelaran keren ini diprakarsai sama Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda dan digelar di Lamin Pemung Tawai, Kamis (19/6/2025).
Acara budaya tahunan ini makin spesial karena dihadiri langsung Wali Kota Samarinda Andi Harun, Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri, Kepala Disporapar Muslimin, Kepala PUPR Desy, Kadis Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi, Wakil Ketua DPRD Celni Pita Sari, dan Ketua Umum Dewan Adat Dayak Kaltim, Viktor Yuan.

Dalam sambutannya, Wali Kota Andi Harun bilang kalau festival ini bukan cuma seremonial budaya doang, tapi juga bentuk nyata menjaga warisan nenek moyang biar gak punah di tengah derasnya arus modernisasi.
“Budaya Dayak di Desa Pampang ini harus terus dirawat. Kita bangga karena di tengah zaman yang serba digital, budaya ini tetap eksis dan hidup,” ucap Andi Harun disambut tepuk tangan meriah.
Festival ini juga dirayakan bertepatan dengan Hari Raya Panen. Menurut Wali Kota, ini sejalan banget sama visi Presiden soal ketahanan pangan. Andi bahkan berjanji tahun depan Festival Dayak Desa Pampang bakal naik level jadi event bertaraf internasional.

Sementara itu, Ketua DAD Kaltim Viktor Yuan menegaskan kalau Restapanen bukan cuma soal budaya, tapi juga momentum buat dorong pertahanan pangan berbasis adat. “Kita bakal bawa acara ini ke Jakarta. Biar orang pusat tahu, budaya Dayak dan ketahanan pangan bisa jadi contoh nasional,” katanya.
Terkait infrastruktur, Wali Kota juga kasih bocoran kalau fasilitas Desa Pampang bakal ditingkatkan. Mulai dari akses jalan, gedung pertunjukan, sampai ornamen khas Dayak. Soalnya, Lamin yang ada sekarang udah gak muat menampung antusias warga yang makin banyak tiap tahunnya.

Ketua Adat Desa Pampang, Esrom Palan, ikut angkat suara dan ngucapin terima kasih atas perhatian Pemkot. Ia berharap budaya Dayak terus dijaga dan diwariskan ke generasi muda. “Festival ini menyatukan kita semua. Harapan kami, budaya Dayak tetap bersinar,” ucapnya haru.
Gak cuma penuh nuansa adat, festival ini juga seru banget karena diisi lomba-lomba khas Dayak. Salah satunya adalah lomba menyumpit, yang jadi simbol ketepatan dan warisan cara bertahan hidup nenek moyang.
“Dulu menyumpit itu alat berburu. Sekarang jadi simbol ketajaman dan tradisi kami,” tutup Esrom.
Festival Budaya Dayak Kenyah 2025 di Desa Pampang bukan cuma soal pesta rakyat. Ini jadi bukti kalau budaya lokal bisa tetap hidup dan keren asal dijaga bareng-bareng. Dengan dukungan penuh dari pemkot, adat, dan masyarakat, Desa Pampang siap jadi ikon budaya yang makin dikenal sampai ke level internasional. (ADV/DPRDSMR/YN)















