Kaltimdaily.com, Kukar – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) telah meningkatkan kewaspadaan untuk menghadapi potensi bencana yang diprediksi terjadi pada tahun 2025, terutama bencana banjir dan tanah longsor.
Kepala BPBD Kukar, Setianto Aji Nugroho, mengungkapkan bahwa berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Timur (Kaltim), 2025 diperkirakan akan mengalami kemarau basah, di mana hujan masih akan turun meskipun berada di musim kemarau. Bahkan, musim hujan sendiri telah dimulai sejak September 2025.
Pada tahun sebelumnya, Kukar tercatat sebagai salah satu daerah yang paling terdampak oleh bencana banjir dan longsor. Oleh karena itu, BPBD Kukar telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak bencana. Beberapa langkah yang diambil antara lain adalah membersihkan parit dan selokan di wilayah yang rawan banjir.
Setianto menambahkan, Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, juga telah menginstruksikan camat untuk segera mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana agar penanganan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
BPBD Kukar juga melakukan kerja sama dengan berbagai dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), serta kecamatan yang lebih memahami kondisi geografis dan sosial wilayah masing-masing. Sinergi antara instansi-instansi terkait ini sangat penting untuk memastikan respons yang cepat dan efektif dalam menangani bencana alam.
Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim hujan di Kukar diperkirakan akan terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Selama periode tersebut, potensi hujan lebat disertai dengan petir dan angin kencang sangat tinggi. Meskipun curah hujan sedikit menurun pada Januari 2026, namun risiko terjadinya bencana alam, seperti banjir, longsor, dan angin kencang, tetap harus diwaspadai. BPBD Kukar mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, menjaga kebersihan saluran air, serta mengikuti informasi peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG dan BPBD Kukar.
Pemerintah daerah, melalui BPBD Kukar, juga tengah mengembangkan sistem pemantauan yang lebih baik, termasuk teknologi ramalan cuaca dan sistem peringatan dini berbasis teknologi. Langkah ini bertujuan agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi potensi bencana dan terhindar dari dampak yang lebih besar. Dengan kesiapsiagaan yang lebih matang, diharapkan daerah ini dapat mengurangi risiko bencana dan mempercepat pemulihan pasca-bencana. (*)















