Kaltimdaily.com, Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda makin serius berbenah di sektor kesehatan.
Lewat Dinas Kesehatan, khususnya UPTD Instalasi Farmasi, lahirlah gebrakan baru yang digagas sama Ibu Asih Rahayu Pamungkas, A.Md.
Program ini fokus buat bikin pengelolaan obat di Puskesmas jadi lebih transparan dan bisa dipertanggungjawabkan.
Gebrakan ini diwujudkan dalam kegiatan Optimalisasi Pelaporan Nilai Persediaan Perbekalan Farmasi bareng 9 Puskesmas BLUD plus 4 Puskesmas Non-BLUD.
Eventnya sendiri digelar Rabu (30/7/2025) di ruang pertemuan dr. On Call, Jalan Milono No. 01, Samarinda. Acara ini dibuka langsung sama Kepala UPTD Instalasi Farmasi Kota Samarinda, apt. Palas Tumpal Doly L. Tobing.

Nggak cuma jadi ajang uji coba, kegiatan ini juga sekalian dijadiin forum monitoring dan evaluasi buat ngecek sejauh mana kinerja pengelolaan perbekalan farmasi di 13 Puskesmas se-Samarinda.
Dalam sambutannya, Palas Tobing ngejelasin kalau transformasi pelaporan ini krusial banget buat bikin sistem keuangan kesehatan jadi lebih rapi.
“Selama ini laporan stok obat kita cuma ngitung jumlah fisiknya aja. Nah, lewat sistem baru ini, kita bisa tahu nilai investasi yang terkandung di setiap persediaan obat. Jadi bukan cuma angka kardus atau box, tapi juga nilainya,” jelasnya ke awak media.

Menurut Palas, perubahan ini adalah langkah gede menuju pengelolaan farmasi yang transparan sekaligus akuntabel di level layanan kesehatan primer.
Dalam acara itu, penanggung jawab farmasi dari semua Puskesmas dilatih buat nyusun laporan stok dengan format baru.
Data yang tadinya cuma angka barang sekarang bisa langsung dikonversi ke nilai rupiah. Artinya, mereka bisa tahu berapa besar aset farmasi yang dikelola tiap tahun.
Manfaat dari sistem baru ini pun lumayan gede. Ada tiga poin penting yang bisa dirasakan:
1. Transparansi Nilai Aset – stok obat nggak lagi sebatas jumlah fisik, tapi udah ada nilai nominalnya. Jadi gampang dilacak pas audit.
2. Ketertiban Administrasi – petugas farmasi jadi makin teliti dan detail, sehingga budaya kerja lebih rapi.
3. Perencanaan Matang – data nilai persediaan yang valid bikin penganggaran farmasi tahun berikutnya lebih efisien.
Dengan terobosan ini, Pemkot Samarinda membuktikan kalau pelayanan kesehatan nggak cuma soal pengobatan pasien aja, tapi juga gimana obat-obatan dikelola dengan profesional.
Target akhirnya jelas: bikin layanan kesehatan di Samarinda makin prima dan anggaran daerah bisa dipakai secara tepat sasaran.
Ke depan, sistem ini diharapkan bisa jadi contoh bagi daerah lain di Kaltim maupun skala nasional. Kalau sistem pelaporan nilai obat bisa berjalan mulus di Samarinda, maka standar baru dalam tata kelola farmasi bisa tercipta.
Pada akhirnya, semua inovasi yang dilakukan Instalasi Farmasi ini punya tujuan utama: memastikan masyarakat Samarinda bisa dapet pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas, transparan, dan tentunya aman.
Karena kesehatan bukan cuma soal obat yang diminum, tapi juga gimana obat itu dikelola biar selalu tersedia saat dibutuhkan. (*)

















