Kaltimdaily.com, Berau– Pemanfaatan teknologi drone dalam pemantauan ekosistem laut menghasilkan temuan penting di wilayah pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sebanyak 913 Penyu berhasil teridentifikasi melalui survei udara di kawasan konservasi Kepulauan Derawan dan sekitarnya.
Pendataan tersebut menjadi salah satu survei populasi penyu paling rinci yang pernah dilakukan di kawasan pesisir Kalimantan. Teknologi pemantauan udara dinilai mampu memberikan hasil lebih akurat dibanding metode konvensional.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak milik Kementerian Kelautan dan Perikanan, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, serta kelompok masyarakat konservasi.
Survei dilakukan di kawasan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya. Tim menggunakan drone untuk memetakan habitat penyu di 12 titik berbeda di wilayah pesisir Berau.
Teknologi tersebut mampu menghasilkan gambar beresolusi tinggi dengan detail mencapai 1,5 hingga 5 sentimeter. Dengan kualitas visual tersebut, peneliti dapat mengidentifikasi penyu di wilayah padang lamun, perairan dangkal, hingga kawasan terumbu karang secara lebih jelas.
Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, menjelaskan penggunaan drone membuat proses pengumpulan data menjadi lebih efektif dan efisien. Teknologi ini juga mampu menjangkau area yang sebelumnya sulit dipantau secara langsung.
Menurutnya, data ilmiah yang diperoleh melalui survei tersebut sangat penting sebagai dasar dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasis penelitian. Pemantauan habitat dan populasi penyu kini dapat dilakukan lebih luas dan detail.
Sementara itu, Senior Manager Marine Protection YKAN, Yusuf Fajariyanto, menilai keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi. Ia menegaskan keterlibatan masyarakat pesisir juga menjadi faktor penting dalam menjaga habitat penyu di Berau.
Yusuf menyebut warga lokal memiliki peran strategis karena hidup berdampingan langsung dengan kawasan pantai dan laut yang menjadi habitat utama penyu. Selain mempercepat pendataan, penggunaan drone juga membantu memetakan distribusi penyu di wilayah pesisir yang sangat luas.
Hasil temuan sebanyak 913 penyu menunjukkan bahwa Kepulauan Derawan masih menjadi habitat penting bagi satwa laut dilindungi tersebut. Kawasan ini selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi utama peneluran penyu di Asia Tenggara.
Beberapa spesies penyu yang hidup di kawasan Derawan antara lain penyu hijau dan penyu sisik. Keberadaan spesies tersebut menjadi indikator penting kesehatan ekosistem laut di wilayah pesisir Kalimantan Timur.
Pemanfaatan teknologi drone dalam konservasi penyu diharapkan dapat diterapkan lebih luas di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Pendekatan berbasis teknologi dinilai mampu memperkuat sistem pemantauan dan perlindungan satwa laut secara berkelanjutan.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan habitat penyu di masa depan. Kesadaran bersama diperlukan agar ekosistem laut tetap terjaga dari ancaman kerusakan lingkungan.
Ke depan, hasil survei ini diharapkan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan perlindungan kawasan laut di Berau dan wilayah lainnya. Dengan dukungan teknologi modern dan partisipasi masyarakat, upaya konservasi penyu di Indonesia diyakini dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. (*)

















