Kaltimdaily.com, Nasional – Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera pada akhir November 2025, menyebabkan kerusakan parah dan banyak korban jiwa.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis pagi (12/12), tercatat sebanyak 971 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Aceh menjadi provinsi dengan jumlah korban jiwa terbanyak, yaitu 391 orang, disusul oleh Sumatera Utara (340 korban) dan Sumatera Barat (240 korban).
Tak hanya menelan korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan ribuan orang terluka dan puluhan lainnya masih dalam pencarian.
Selain itu, lebih dari 157.900 rumah rusak akibat banjir dan longsor yang melanda 52 kabupaten di Pulau Sumatera. Sekitar 1.200 fasilitas umum, termasuk rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah, turut hancur.
Hampir satu juta orang terpaksa mengungsi di tempat yang lebih aman. Meski demikian, upaya pencarian korban dan pemulihan akses jalan yang terputus terus dilakukan oleh pemerintah dan relawan.
Di tengah bencana yang melanda, pemerintah provinsi terus bergerak cepat. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengumumkan perpanjangan status tanggap darurat bencana hingga 25 Desember 2025.
Langkah ini diambil untuk memfokuskan pada rehabilitasi dan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak parah akibat bencana tersebut. Selain itu, pemerintah juga berusaha untuk mempercepat distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan gas ke daerah-daerah yang masih terisolasi, seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, dan beberapa daerah di Aceh Utara.
Sementara itu, Sumatera Utara memperpanjang masa tanggap darurat hingga 23 Desember 2025. Beberapa kabupaten di provinsi ini masih berada dalam kondisi darurat, sehingga pemulihan segera dilakukan.
Di Sumatera Barat, bencana ini juga meninggalkan duka yang mendalam, dengan banyak korban yang tidak dapat teridentifikasi. Pada Rabu (10/12), jenazah-jenazah yang tidak diketahui identitasnya dimakamkan secara massal di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bungus, Teluk Kabung, Padang.
Kerugian yang ditimbulkan oleh bencana ini sangat besar, baik dari segi nyawa maupun infrastruktur. Proses pemulihan masih berjalan, dan saat ini fokus utama adalah membuka kembali akses ke wilayah-wilayah yang terisolasi serta memastikan bantuan sampai ke tangan korban.
Bencana yang terjadi di Pulau Sumatera ini telah memberikan pelajaran penting tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam. Oleh karena itu, pemulihan dan penanganan pascabencana menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan pusat. Dengan adanya dukungan penuh dari masyarakat dan pihak-pihak terkait, diharapkan kondisi ini dapat segera pulih dan kehidupan warga dapat kembali berjalan normal. (*)















