Kaltimdaily.com, Nasional – Pada Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, 20 Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kelakar terkait kemungkinan adanya retret kedua bagi menteri dan pejabat pemerintahan. Retret pertama yang dilaksanakan pada Oktober 2024 di Akademi Militer Magelang bertujuan untuk menyatukan visi kabinet dan meningkatkan kerja sama melalui kegiatan sosial, seperti olahraga dan makan bersama.
Namun, wacana retret kedua ini mendapat kritik tajam dari berbagai kalangan. Firman Noor, peneliti senior Pusat Riset Politik, berpendapat bahwa retret tidak lagi relevan setelah satu tahun masa pemerintahan. Firman menyarankan agar masalah utama dalam pemerintahan diselesaikan melalui koordinasi langsung antar kementerian dan lembaga, bukan dengan kegiatan yang terkesan abstrak seperti retret.
Ia juga menambahkan bahwa kabinet yang terlalu besar justru menghambat komunikasi yang efektif antar anggotanya serta menambah beban anggaran negara.
Pendapat serupa disampaikan oleh Bakir Ihsan, pengajar ilmu politik, yang menilai bahwa retret mungkin dapat dimengerti pada awal pemerintahan sebagai langkah konsolidasi, tetapi setelah satu tahun berjalan, yang dibutuhkan adalah kerja konkret dari kabinet untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia juga menyarankan agar evaluasi terhadap jumlah anggota kabinet segera dilakukan, mengingat banyaknya anggota kabinet yang terkesan lebih berfokus pada kepentingan politik daripada pada penyelesaian masalah yang dihadapi rakyat.
Dengan berjalannya waktu, publik semakin menginginkan bukti nyata dari kinerja kabinet. Banyak yang berharap agar para menteri dapat memberikan dampak yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan hanya terlibat dalam diskusi di forum-forum formal yang tidak memberikan solusi konkret.
Tahun pertama pemerintahan Prabowo Subianto telah berjalan, namun para pemimpin negara diharapkan untuk menunjukkan capaian nyata dalam program-program pemerintahan, daripada berfokus pada kegiatan simbolik yang belum tentu dapat memberikan perubahan yang substansial. Semoga kedepannya, ada lebih banyak inisiatif yang jelas dan terukur yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. (*)















