Kutai Kartanegara

Pengrajin Rotan Tenggarong Masih Bertahan di Tengah Sulitnya Bahan Baku

Avatar
1213
Pengrajin Rotan di Kukar. Ft by Kutairaya

Rotan Makin Langka, Tapi Pengrajin Kukar Tetap Tahan Banting!

Kaltimdaily.com, Kukar – Di tengah makin sulitnya cari bahan baku rotan, dua pengrajin asal Kutai Kartanegara (Kukar) tetap konsisten produksi kerajinan khas daerah. Salah satunya Ety, pengrajin rotan dari Tenggarong yang udah puluhan tahun bikin aneka kerajinan tangan dari rotan, mulai dari topi, tikar, tas, hingga anjat gendong yang kece abis.

Ety bilang, sekarang rotan udah nggak bisa lagi ditemuin di Kukar. Satu-satunya sumber bahan cuma dari Kutai Barat (Kubar), itu pun mesti nyari di tengah hutan. “Rotannya kita beli dari warga atau pengepul di Kubar. Sekali beli, buat stok beberapa tahun ke depan,” katanya saat ditemui di rumahnya di Jalan Gunung Belah, Jumat (25/7/2025).

Produknya dijual dengan harga bervariasi, dari Rp 200 ribu sampai Rp 4 juta, tergantung kerumitan dan jenisnya. Proses pengerjaannya juga nggak main-main. Ada yang selesai dalam seminggu, tapi ada juga yang butuh sampai 3-4 bulan. Semua dia kerjain sendiri di rumahnya, sambil jaga kualitas khas rotan lokal.

Langkah awalnya, rotan yang udah ditebas dibersihin dulu, dijemur 3 hari, lalu dibelah jadi delapan bagian sebelum dibentuk sesuai pesanan. Nggak cuma lokal, produknya juga udah dikirim ke berbagai kota di Indonesia bahkan sampai luar negeri! Ety ngaku, dalam sebulan biasanya bisa jual 10 produk dengan omzet sekitar Rp 3–4 juta.

“Ini bukan cuma usaha, tapi bagian dari budaya Dayak yang harus dijaga dan diwariskan. Makanya saya harap anak muda Kukar mau belajar dan nerusin,” ucap Ety yang udah jadi pengrajin sejak kecil dan mulai jualan sejak 2013.

Hal yang sama juga dirasain Mida Mardalina, pengrajin rotan dari Jalan Mangkuraja. Ia bilang, kalau stok rotan habis, otomatis produksi harus berhenti. Dia bikin aneka produk kayak gelang, tas, pouch, dompet, sampai anjat. Harganya mulai Rp 50 ribu sampai Rp 850 ribu, tergantung jenis dan ukuran.

Tapi sayangnya, selain soal bahan baku, Mida juga mengaku terkendala soal modal. Meskipun ada program Kukar Kredit Idaman dari pemerintah, dia belum berani ngajuin karena takut nggak bisa nyicil. “Soalnya penghasilan belum tentu pasti,” curhatnya.

Produk Mida yang paling laris biasanya gelang dan tas kaban. Untungnya, ada dukungan promosi dari Disperindag yang sering ajak mereka ikut pameran di luar daerah. Itu bantu banget buat naikin nama kerajinan rotan Kukar.

Meski banyak tantangan dari bahan baku sampai modal, para pengrajin rotan di Kukar tetap semangat berkarya. Mereka bukan cuma bikin kerajinan, tapi juga menjaga budaya dan warisan nenek moyang yang kaya akan nilai lokal.

Harapannya, pemerintah makin aktif dampingi mereka—bukan cuma pas pameran aja, tapi juga bantu akses bahan baku dan permodalan. Soalnya, lewat kerajinan rotan inilah banyak keluarga bisa bertahan hidup dan budaya Dayak bisa terus dikenal sampai ke mancanegara. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version