Kaltimdaily.com, Kukar – Lonjakan harga plastik terjadi di wilayah Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dengan kenaikan yang mencapai hingga 50 persen. Kondisi ini mulai dirasakan para pedagang sejak pekan ketiga Ramadan dan masih berlangsung hingga saat ini.
Sejumlah pelaku usaha di Kukar mengaku kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya biaya pasokan dari distributor. Salah satu pedagang plastik, Yuni, menyebut keterbatasan bahan baku menjadi faktor utama yang menyebabkan harga terus merangkak naik.
Menurut informasi yang diterimanya, pasokan bahan baku plastik di tingkat produsen mengalami gangguan. Situasi global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, disebut turut berdampak terhadap distribusi bahan produksi, sehingga memengaruhi harga di daerah seperti Kukar.
Kenaikan harga terjadi pada berbagai jenis produk. Kantong plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp10 ribu kini naik menjadi Rp15 ribu. Sementara itu, gelas plastik mengalami kenaikan dari Rp18 ribu menjadi Rp23 ribu. Hampir seluruh jenis plastik di Kukar mengalami penyesuaian harga yang cukup signifikan.
Para pedagang di Kukar mengaku belum dapat memastikan kapan harga akan kembali stabil. Mereka berharap kondisi pasar global segera membaik agar pasokan bahan baku kembali lancar dan harga bisa turun.
Dampak kenaikan ini turut dirasakan pelaku usaha, khususnya sektor kuliner di Kukar yang sangat bergantung pada plastik untuk kebutuhan pengemasan. Salah satu pedagang makanan, Parti, mengungkapkan bahwa lonjakan harga kali ini cukup memberatkan karena terjadi dalam jumlah besar.
Meski harga meningkat tajam, kebutuhan terhadap plastik di Kukar tetap tinggi. Para pelaku usaha tidak memiliki banyak alternatif sehingga tetap harus membeli demi menjaga kelangsungan operasional usaha mereka.
Kondisi ini menyebabkan beban biaya operasional pelaku usaha di Kukar semakin meningkat. Kenaikan harga plastik dinilai berdampak langsung terhadap margin keuntungan, terutama bagi usaha kecil dan menengah.
Para pedagang di Kukar berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga. Intervensi dinilai penting agar rantai distribusi kembali normal dan harga tidak terus melonjak.
Selain itu, pelaku usaha di Kukar mulai mencari cara untuk menekan biaya, termasuk mengurangi penggunaan plastik atau beralih ke alternatif lain. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya efektif karena keterbatasan pilihan di lapangan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap sektor usaha di Kukar, khususnya usaha kuliner yang sangat bergantung pada bahan kemasan plastik.
Dengan adanya perhatian dari berbagai pihak, para pelaku usaha di Kukar berharap stabilitas harga dapat segera tercapai, sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan normal tanpa tekanan biaya yang berlebihan. (*)











