banner-sidebar
Kutai Kartanegara

Inovasi Biogas di Samboja, Kukar: Solusi Sumber Energi dari Kotoran Sapi

Avatar
1121
×

Inovasi Biogas di Samboja, Kukar: Solusi Sumber Energi dari Kotoran Sapi

Share this article
Kandang Sapi. Ft by Ist

Kaltimdaily.com, Kukar – Rosipul Akli, Ketua Kelompok Ternak Tirto Sari di Samboja, Kutai Kartanegara, memanfaatkan biogas yang dihasilkan dari kotoran sapi sebagai sumber energi untuk keperluan memasak. Api biru yang keluar dari kompor bukan berasal dari LPG, melainkan hasil fermentasi kotoran ternak dalam reaktor biogas.

Program ini dimulai pada tahun 2020 dengan dukungan 11 unit reaktor yang diberikan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengatasi masalah limbah sapi yang selama ini menjadi beban bagi peternak. Setiap reaktor yang memiliki kapasitas empat meter kubik mampu mengubah kotoran sapi menjadi gas metana (CH₄) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.

Selain itu, kelompok peternak ini juga berbagi reaktor kepada masyarakat sekitar yang memiliki minimal tiga ekor sapi. Satu unit reaktor dapat melayani tiga hingga empat rumah tangga, sehingga turut membantu mengatasi kelangkaan LPG di wilayah tersebut.

Keberadaan reaktor juga menghasilkan pupuk organik cair (POC) dan ampas padat (slurry) yang sangat bermanfaat untuk pertanian. POC terbukti efektif untuk meningkatkan hasil tanaman cabai dan jambu air, sedangkan ampas padat digunakan sebagai pupuk kering yang dapat menyuburkan tanah di sekitar wilayah tersebut.

Program biogas ini telah sukses diterapkan di Samboja serta wilayah lain, seperti Long Kali dan Long Ikis di Paser. Kerja sama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim menghasilkan sistem ekonomi sirkular yang mendukung kemandirian energi dan pangan. Pada tahun 2024, kelompok Tirto Agro Nusantara berhasil meraih juara pertama dalam lomba Pengembangan Desa Koperasi Ternak (PDKT).

Keberhasilan ini semakin memperkuat rencana pengembangan biogas skala besar dengan reaktor 17 kubik yang ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan gas dan listrik di 21 rumah tangga. Hal ini membuktikan bahwa solusi energi terbarukan dapat dimulai dengan langkah-langkah sederhana dan mandiri, bahkan berasal dari kandang sapi yang ada di belakang rumah.

Rosipul Akli, Ketua Kelompok Ternak Tirto Sari di Samboja, Kutai Kartanegara, berhasil mengubah kotoran sapi menjadi energi yang bermanfaat melalui biogas. Api biru yang keluar dari kompor rumah tangga mereka bukan berasal dari LPG, tetapi dari gas metana hasil fermentasi kotoran ternak.

Program ini dimulai pada tahun 2020 dengan bantuan 11 unit reaktor dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim. Reaktor yang memiliki kapasitas empat meter kubik ini mampu mengolah kotoran sapi menjadi gas metana yang dapat digunakan untuk memasak, menggantikan LPG yang selama ini menjadi komoditas langka.

Selain mengatasi masalah limbah sapi, kelompok peternak ini juga berbagi manfaat kepada masyarakat sekitar. Mereka membagikan reaktor kepada warga yang memiliki minimal tiga sapi, dengan satu reaktor dapat melayani tiga hingga empat rumah tangga. Ini tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan pada LPG, tetapi juga memberikan solusi energi yang lebih mandiri.

Tidak hanya gas, reaktor ini juga menghasilkan pupuk organik cair (POC) dan ampas padat (slurry). POC sangat efektif untuk tanaman cabai dan jambu air, sementara ampas padat menjadi pupuk kering yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah di sekitar wilayah tersebut.

Program ini telah berhasil diterapkan di Samboja dan juga di wilayah lain seperti Long Kali dan Long Ikis di Paser. Kolaborasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim mendukung terciptanya sistem ekonomi sirkular yang mendorong kemandirian energi dan pangan di tingkat lokal.

Pada tahun 2024, kelompok Tirto Agro Nusantara berhasil meraih juara pertama dalam lomba Pengembangan Desa Koperasi Ternak (PDKT), yang semakin mendorong pengembangan biogas skala besar. Ke depan, mereka berencana untuk membangun reaktor berkapasitas 17 kubik, yang dapat memenuhi kebutuhan gas dan listrik di 21 rumah tangga. Ini menunjukkan bahwa solusi energi terbarukan yang mandiri dapat diawali dari hal-hal kecil, bahkan yang berasal dari kandang sapi di halaman rumah.

Program pemanfaatan biogas dari kotoran sapi yang dijalankan oleh kelompok peternak Tirto Sari di Samboja, Kukar, telah menjadi contoh sukses dalam mengatasi masalah limbah ternak serta meningkatkan kemandirian energi masyarakat setempat. Melalui bantuan 11 unit reaktor dari Dinas ESDM Kaltim, kelompok ini berhasil mengubah kotoran sapi menjadi gas metana yang digunakan sebagai bahan bakar.

Dengan membagikan reaktor kepada masyarakat sekitar yang memiliki ternak, program ini tidak hanya memberikan solusi untuk kelangkaan LPG, tetapi juga membantu menciptakan ekonomi sirkular yang mendukung ketahanan pangan dan energi di Kukar. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa teknologi sederhana seperti biogas dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat.

Keberhasilan program biogas di Samboja, Kukar, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana inovasi dan teknologi ramah lingkungan bisa menjadi solusi bagi masalah energi dan limbah. Proyek ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pertanian dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Melihat keberhasilan ini, tak heran jika model pengelolaan energi terbarukan dari kotoran sapi ini akan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengadopsi teknologi serupa.

Dengan semakin banyaknya kelompok peternak yang ikut serta dalam program ini, diharapkan kedepannya akan tercipta lebih banyak komunitas mandiri yang mampu memenuhi kebutuhan energi secara berkelanjutan. Keberlanjutan program biogas ini tidak hanya akan memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga mendukung upaya konservasi lingkungan yang lebih luas, menjadikan Kukar sebagai contoh pionir dalam penggunaan energi terbarukan berbasis komunitas. (*)

Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih