banner-sidebar
KaltimADVDPRD SamarindaSamarinda

DPRD Samarinda Bahas Sengketa Tanah Bengkuring, Ini Hasilnya

Avatar
878
×

DPRD Samarinda Bahas Sengketa Tanah Bengkuring, Ini Hasilnya

Share this article
DPRD Samarinda Bahas Sengketa Tanah Bengkuring, Ini Hasilnya
Suasana RDP di DPRD Samarinda. Ft by Yana

Kaltimdaily.com, Samarinda – DPRD Samarinda lewat Komisi I baru aja ngadain Rapat Dengar Pendapat (RDP) bareng masyarakat di Gedung DPRD lantai 1, Rabu (4/6/2025).

Agenda utamanya: bahas soal dugaan penyerobotan tanah di kawasan Bengkuring yang udah bikin warga resah. Rapat ini dipimpin langsung sama Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra dan dihadiri anggota lainnya kayak Muhammad Yusran, Aris Mulyanata, plus jajaran dari BPKAD Kota Samarinda.

Samri cerita kalau sengketa ini bermula dari tanah yang udah dibebaskan Pemkot sejak 2006 atas nama Hairul Usman. Tapi, beberapa warga ngaku juga punya lahan di situ dan sampe sekarang belum dapet ganti rugi. Waduh, ribet juga ya!

“Ini masalah udah hampir 20 tahun, warga ngaku belum dibayar, padahal lahan itu udah jadi aset daerah,” kata Samri.

Samri juga ngejelasin, Pemkot gak bisa sembarangan bayar dua kali buat lahan yang sama karena bisa jadi masalah hukum. Solusinya? Ya, tempuh jalur pengadilan.

“Kalau pengadilan menyatakan klaim warga sah, itu bisa jadi dasar hukum buat Pemkot bayar lagi. Tapi sekarang belum ada dasarnya,” tegasnya.

Anggota Komisi I lainnya, Aris Mulyanata, bilang RDP ini emang buat ngasih ruang warga menyuarakan keluhannya. Warga bernama Faisal Arizona ngaku punya tanah 34 ribu meter persegi di lokasi yang sama. Masalahnya, Pemkot juga udah bebasin lahan seluas 18 hektare di periode 2006–2008. Jadi ya, bentrok klaim.

Aris juga bilang, urusan sengketa tanah ini bikin proyek folder pengendali banjir di Bengkuring jadi mandek.

Makanya, status kepemilikan lahan harus cepet diberesin lewat jalur hukum biar pembangunan bisa lanjut jalan.

Dari pihak Pemkot, Kabid Aset BPKAD Samarinda, Yusdiansyah, bilang tanah itu udah dibebasin pakai APBD sejak 2006–2008, lengkap dokumennya. Sementara klaim baru dari warga pakai sertifikat yang baru terbit di 2021. Nah lho!

“Kalau kita bayar lagi tanpa dasar hukum, itu bisa jadi double payment. Bisa kena masalah hukum juga,” jelas Yusdiansyah.

Dengan hasil RDP ini, semua pihak sepakat: jalur hukum jadi solusi paling fair.

DPRD Samarinda janji bakal terus kawal proses ini biar gak makin ruwet dan gak ngehambat proyek-proyek pembangunan strategis lainnya.

Selain itu, DPRD Samarinda juga minta semua warga tenang dan ikuti prosedur hukum yang ada. Mereka bakal pastiin hak-hak masyarakat tetap diperjuangkan tanpa ngorbanin kepentingan umum.

Sengketa boleh panas, tapi pembangunan harus terus jalan! (*)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih