banner-sidebar
Tekno

Demonstrasi Drone Tempur China: Kekuatan Udara Tanpa Awak

Avatar
933
×

Demonstrasi Drone Tempur China: Kekuatan Udara Tanpa Awak

Share this article
Drone Warfare Technology. Ft by Ist

China Pamerkan Kecanggihan Drone Tempur di Inner Mongolia

Kaltimdaily.com, Tekno – China kembali menunjukkan kekuatan teknologi militernya lewat aksi demo perang yang digelar di kawasan otonom Inner Mongolia. Dalam latihan tersebut, China menghadirkan beragam sistem tanpa awak (uncrewed systems) untuk menunjukkan keunggulan mereka di dunia teknologi drone, seperti diberitakan oleh CCTV pada Senin (tanggal tidak disebutkan).

Latihan ini menggambarkan simulasi perebutan lokasi strategis di perbatasan, dan dibagi dalam enam fase: pengintaian, perencanaan berbasis AI, infiltrasi, serangan udara, eliminasi target, serta anti-akses. Semua fase ini melibatkan drone canggih buatan lokal dan teknologi pendukung yang bikin geleng kepala.

Beberapa jenis UAV (unmanned aerial vehicles) yang ditampilkan termasuk drone ISR (intelligence, surveillance, reconnaissance), munisi loitering jarak pendek dan panjang, helikopter tanpa awak, hingga drone FPV (first-person view) taktis. Di darat, China juga memamerkan sistem komando cerdas hingga senjata anti-drone yang terintegrasi.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah senjata laser anti-drone OW-5. Senjata ini menembakkan sinar energi tinggi yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang dan sukses menjatuhkan drone musuh dari jarak beberapa kilometer. Versi terbarunya, OW5-A50, punya daya hingga 50 kilowatt dan dipasang di truk militer berat Dongfeng. Senjata ini bisa digunakan sebagai pertahanan mandiri atau bagian dari sistem jaringan perlindungan udara.

Latihan ini juga menampilkan koordinasi antara drone dan artileri. Drone pengintai mengirim data koordinat secara real-time ke meriam 155mm yang langsung menembak target secara presisi. Beberapa drone kecil juga mendemonstrasikan kemampuan khusus, seperti drone pengacak sinyal (jammer) yang bisa mengacaukan sistem optik drone lain dari jarak jauh.

Berbagai jenis drone tempur turut dipamerkan, seperti Flying Frog (drone pengintai VTOL), Flying Falcon (munisi loitering berkecepatan tinggi), Black Bee (drone pelempar granat), dan Flying Whale (drone pengebom). CCTV menyebut drone-drone ini sebagai “mitra cerdas” yang bikin tentara infanteri punya kesadaran situasional penuh dan serangan presisi di medan perang modern.

Acara ini digelar oleh Norinco (China North Industries Group Corporation), produsen senjata terbesar milik negara. Norinco juga memperkenalkan keluarga drone loitering bernama Feilong atau Flying Dragons. Seri ini mencakup Feilong-10 (anti-personel jarak dekat), Feilong-60 (bisa diluncurkan dari peluncur roket dan berfungsi sebagai misil jelajah), hingga Feilong-300A (dapat menyerang radar pertahanan dari jarak 300 km).

Drone-drone bunuh diri (suicide drones) ini bisa digabungkan dalam satu unit swarm (gerombolan terintegrasi) yang dapat melakukan serangan masif secara bersamaan, yang memperlihatkan betapa seriusnya China dalam mengembangkan teknologi drone sebagai kekuatan masa depan di medan tempur.

Dengan unjuk kekuatan ini, China seolah memberi sinyal ke dunia bahwa mereka bukan hanya pemain utama dalam industri drone komersial, tapi juga telah mencapai level tinggi dalam pengembangan drone militer. Dominasi di udara tak lagi butuh pilot—cukup kecerdasan buatan, sistem otomatisasi, dan koordinasi canggih antar mesin.

Kecanggihan drone tempur ini juga bisa menjadi perhatian global terhadap masa depan perang modern. Penggunaan swarm drone dan senjata laser bukan lagi konsep fiksi ilmiah, tapi realitas baru di era militer digital. Dunia sepertinya harus mulai bersiap menghadapi revolusi teknologi drone yang digerakkan oleh China. (*)

Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih