banner-sidebar
Fokus

Cuaca Ekstrem di Makkah—Antara Ibadah dan Ancaman Alam

Avatar
1328
×

Cuaca Ekstrem di Makkah—Antara Ibadah dan Ancaman Alam

Share this article
Cuaca Ekstrem di Makkah—Antara Ibadah dan Ancaman Alam
Kondisi di Mekkah. Ft by Kemenag RI

Kaltimdaily.com —Kota suci Makkah tengah menghadapi serangkaian fenomena cuaca ekstrem yang menguji ketangguhan jemaah haji dan kesiapan otoritas setempat. Dari suhu yang melonjak hingga 51,8°C hingga banjir bandang yang melanda, kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang mitigasi risiko dan perlindungan jemaah di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.

Gelombang Panas Mematikan

Pada musim haji 2024, suhu di Makkah mencapai rekor tertinggi 51,8°C, menyebabkan setidaknya 1.301 jemaah meninggal dunia akibat heatstroke dan dehidrasi. Sebagian besar korban adalah jemaah tanpa visa resmi yang tidak memiliki akses ke fasilitas ber-AC, seperti tenda di Mina.

Tahun ini, suhu ekstrem kembali melanda. Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi melaporkan suhu di Makkah dan Madinah mencapai 41°C, dengan potensi meningkat hingga 50°C selama puncak ibadah haji . Kondisi ini meningkatkan risiko dehidrasi dan heatstroke, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka dengan kondisi kesehatan tertentu.

Banjir Bandang dan Pusaran Air

Selain panas ekstrem, hujan lebat pada Januari 2025 menyebabkan banjir bandang di Makkah, Madinah, dan Jeddah. Air bah menggenangi jalanan, menyeret kendaraan, dan memutus akses transportasi . Di Rabigh, sekitar 140 km dari Jeddah, terbentuk pusaran air (waterspout) yang mencapai garis pantai, fenomena langka yang menimbulkan kekhawatiran akan dampak perubahan iklim.

Respons Otoritas dan Tantangan Ke Depan

Otoritas Arab Saudi telah meningkatkan kesiapsiagaan dengan menyiagakan relawan, pusat komando darurat, dan layanan ambulans untuk menghadapi situasi darurat. Namun, tragedi tahun lalu menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan massa dan aksesibilitas fasilitas bagi seluruh jemaah, termasuk mereka yang tidak memiliki visa resmi.(

Para ahli menekankan pentingnya mitigasi risiko, seperti penggunaan sensor panas untuk deteksi dini dan edukasi jemaah tentang bahaya cuaca ekstrem. Dengan musim haji yang akan datang, langkah-langkah ini menjadi krusial untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah di tengah tantangan alam yang semakin kompleks. (*)




Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih