Kaltimdaily.com, Kutim – Minggu malam, 31 Agustus 2025, halaman Mapolres Kutai Timur (Kutim) jadi lautan cahaya lilin. Ratusan pemuda dan mahasiswa turun ke jalan gelar demo damai sebagai bentuk solidaritas terhadap isu nasional yang lagi bikin masyarakat resah.
Koordinator aksi, Avivurrahman Al Ghazali, bilang kalau demo ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Menurutnya, aksi ini jadi wadah anak muda buat nyampein aspirasi sekaligus bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial yang lagi panas.
Dalam suasana khidmat, peserta demo nyalain ratusan lilin dan baca doa bersama. Mereka juga sampaikan tiga poin tuntutan. Pertama, desak Polri usut tuntas kasus Affan Kurniawan, driver ojol yang tewas setelah terlindas rantis Brimob saat kerusuhan di Jakarta. Massa minta proses hukum harus transparan. Kedua, mereka tegas menolak segala bentuk tindakan represif aparat. Ketiga, ajak Polres Kutim bareng masyarakat tetap jaga situasi aman, damai, dan kondusif.
Avivurrahman ngingetin pentingnya rasa kebersamaan di Kutim. Menurut dia, kalau sampai daerah ikut terpecah, pembangunan bisa terhambat dan potensi konflik antar generasi muda makin besar karena provokasi.
Peserta demo tampil sederhana dengan outfit kasual, bawa poster aspirasi, tapi tetap jaga ketertiban. Kehadiran mereka buktiin kalau suara rakyat bisa disampaikan tanpa bikin keributan.
Avivurrahman nutup orasinya dengan pesan bahwa aspirasi harus disampaikan dengan cara elegan. Katanya, suara tetap bisa sampai ke telinga penguasa tanpa harus ada anarki atau pelanggaran hukum.
Harapan pun bergema di akhir acara. Mereka pengen Kutai Timur tetap rukun, damai, dan aman biar pembangunan di daerah gak terganggu oleh konflik sosial. Anak muda Kutim percaya kalau demo damai adalah cara tepat buat jaga persatuan di tengah perbedaan.
Dengan nyala lilin malam itu, demo di Kutim jadi simbol semangat kebersamaan. Pesan kuat yang muncul: rakyat bisa bersuara tanpa harus bikin rusuh, dan anak muda punya peran penting buat jaga masa depan daerah tetap harmonis. (*)

















