banner-sidebar
Bisnis

Tantangan Target PDB 2025: Sektor Manufaktur Hadapi Masalah Impor dan Biaya Produksi Tinggi

Avatar
1148
×

Tantangan Target PDB 2025: Sektor Manufaktur Hadapi Masalah Impor dan Biaya Produksi Tinggi

Share this article
GDP. Ft by Ist

Kaltimdaily.com, Bisnis – Pemerintah Indonesia menargetkan sektor manufaktur untuk menyumbang 20,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2025. Namun, beberapa pelaku industri menilai bahwa target tersebut sulit tercapai. Beberapa subsektor, khususnya tekstil dan produk tekstil (TPT), tengah menghadapi tantangan besar akibat banjirnya produk impor murah serta tingginya biaya produksi.

Menteri Prabowo Subianto menargetkan sektor ini tumbuh 5,5% pada tahun 2025, dengan harapan bahwa investasi di sektor petrokimia, kendaraan listrik, dan hilirisasi tembaga akan memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan manufaktur.

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) berpendapat bahwa pencapaian target tersebut mungkin dapat direalisasikan jika pemerintah secara serius menekan peredaran impor ilegal. Ketua APSyFI, Redma Gita Wirawasta, menyatakan bahwa produk impor murah yang mendominasi pasar domestik telah menghambat peluang bagi produsen lokal. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam impor benang dan kain dari 2016 hingga 2024, yang menunjukkan adanya ketimpangan dalam industri dalam negeri.

Di sisi lain, Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), Yustinus Gunawan, mengemukakan bahwa tingginya biaya produksi, terutama akibat kebijakan harga gas yang tidak konsisten, menjadi masalah besar bagi industri manufaktur. Ia menekankan bahwa penting bagi pemerintah untuk mengeluarkan regulasi yang konsisten untuk mendukung sektor manufaktur, terutama terkait pasokan gas bumi dengan harga yang terjangkau.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga menyoroti perlunya kebijakan yang lebih mendukung sektor manufaktur, termasuk insentif fiskal dan non-fiskal yang terarah, percepatan implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta penguatan ekosistem industri hulu-hilir. Wakil Ketua Umum Kadin, Saleh Husin, menyatakan bahwa dengan kebijakan yang tepat, sektor manufaktur dapat kembali tumbuh di atas 19% dan mendekati target 20% dalam beberapa kuartal ke depan.

Tantangan besar yang dihadapi sektor manufaktur di Indonesia dalam mencapai target PDB 2025 harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Kebijakan yang tepat dan konsisten, serta komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada impor, menjadi kunci utama untuk memacu pertumbuhan sektor ini. Di samping itu, dukungan terhadap inovasi dan investasi di sektor-sektor strategis seperti kendaraan listrik dan petrokimia juga diharapkan mampu memberikan dampak positif dalam mendongkrak kontribusi sektor manufaktur terhadap ekonomi nasional.

Dengan langkah-langkah yang terintegrasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat, optimisme terhadap pencapaian target PDB manufaktur 2025 masih bisa diwujudkan. Kolaborasi yang lebih erat, serta fokus pada peningkatan kualitas dan daya saing produk dalam negeri, akan memastikan sektor manufaktur dapat berperan lebih besar dalam perekonomian Indonesia. (*)

Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih