Kaltimdaily.com, Kutim – Pembangunan kolam renang senilai Rp9 miliar di SMK Negeri 2 Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim) ternyata masih molor dari target yang ditentukan. Proyek yang digarap oleh CV Kalembo Ade Mautama, kontraktor asal Nusa Tenggara Barat (NTB), awalnya ditarget selesai akhir 2024. Tapi kenyataannya, sampai Juni 2025, kolamnya masih belum bisa dipakai.
Menurut info dari pihak Disdikbud Kaltim, proyek ini sempat diperpanjang sampai 25 Mei 2025, dan sekarang mundur lagi hingga akhir Juni 2025. Kabid SMK Disdikbud Kaltim, Surasa, bilang proyek ini tetap berjalan sesuai prosedur, kok. Ia ngaku kalau perpanjangan waktu ini sah karena ada dasar hukum dari Pergub Kaltim Nomor 6 Tahun 2024.
“Bukan telat ya, tapi lagi disesuaikan biar hasil akhirnya bagus dan sesuai standar buat siswa,” ujar Surasa saat dihubungi lewat telepon (16/6/2025).
Disdikbud juga ngaku udah evaluasi kinerja penyedia proyek lewat sistem LPSE, dan diawasi ketat oleh tim UKPBJ, pengawas independen, dan konsultan teknis. Tapi kalau keterlambatannya makin parah, gak nutup kemungkinan bakal kena sanksi.
“Kita udah siapkan skema sanksi kalau lewat batas waktu yang disepakati. Tapi saat ini proyeknya masih jalan dan kita monitor terus,” lanjutnya.
Masalah utamanya ada di pengadaan material antara penyedia dan supplier, bukan di tangan Disdikbud Kutim. Jadi, menurut Surasa, dinas gak bisa cawe-cawe urusan suplai bahan bangunan.
“Kita ini hanya fasilitator. Masalah bahan bangunan itu tanggung jawab penyedia dan tokonya. Kalau kami ikut campur, itu udah melewati batas kewenangan,” tegas Surasa.
Sementara itu, Kepala SMKN 2 Sangatta Utara, Puji Astuti Rahayu Effendi, lumayan kecewa karena kolam belum bisa dipakai. Alhasil, tiap kali ada pelajaran berenang, siswa harus diboyong ke kolam luar kayak di Swarga Bara atau Hotel Victoria.
“Sedih juga sih. Anak-anak jadi harus bolak-balik keluar sekolah. Tapi ya mau gimana lagi, kita cuma bisa nerima aja,” ungkapnya pasrah.
Molornya pembangunan kolam renang di SMK Sangatta jadi catatan penting buat semua pihak yang terlibat. Apalagi ini fasilitas penting buat pembelajaran siswa. Kalau proyek terus-terusan molor, bukan cuma kegiatan belajar yang terganggu, tapi juga bikin kepercayaan masyarakat menurun.
Semoga proyek ini bisa bener-bener dituntaskan sesuai target yang baru. Jangan sampai anak-anak kehilangan hak mereka buat belajar di fasilitas yang layak cuma karena urusan teknis dan manajemen proyek yang kurang maksimal. (*)















