FokusSamarinda

Merdeka Belum Sepenuhnya: Tantangan Energi dan Lingkungan Indonesia

Avatar
1080
Spanduk terpasang di Flyover Air Hitam Samarinda. Ft by Ist

Kaltimdaily.com, Samarinda – Memasuki bulan Agustus, suasana merdeka mulai terasa di seluruh penjuru negeri.

Masyarakat ramai-ramai memasang bendera, menghiasi jalan dengan umbul-umbul, hingga mempersiapkan aneka perlombaan untuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

Namun, di balik kemeriahan itu, Indonesia masih dihadapkan pada persoalan besar: krisis iklim dan energi yang belum teratasi.

Sejak Persetujuan Paris 2015, Indonesia bersama 196 negara lain berkomitmen menjaga kenaikan suhu global agar tidak melampaui 1,5°C.

Sayangnya, pada tahun 2024, sejumlah peneliti mencatat suhu bumi sudah melampaui ambang batas aman tersebut.

Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia untuk segera menekan emisi gas rumah kaca (ERK).

Dalam dokumen NDC, Indonesia menargetkan pengurangan emisi sebesar 31,89% pada 2030 melalui upaya sendiri, serta 43% jika mendapat dukungan internasional.

Pemerintah juga menekankan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% demi tercapainya Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Namun, hingga akhir 2024, capaian energi bersih baru menyentuh 14%, jauh dari target yang diharapkan.

Kalimantan Timur menjadi salah satu daerah yang mendapat sorotan besar.

Data Auriga Nusantara mencatat, provinsi ini menempati posisi pertama dengan deforestasi terbesar di Indonesia pada tahun 2024, yakni mencapai 261.575 hektar.

Upaya transisi energi seperti pembangunan PLTS di beberapa lokasi justru belum berjalan maksimal, bahkan masih bergantung pada PLTU.

Ironisnya, penggunaan panel surya dianggap hanya memperpanjang praktik ekstraktivisme, karena bahan dasarnya tetap bergantung pada tambang pasir silika.

Situasi ini menimbulkan kritik bahwa transisi energi di Kaltim hanyalah solusi palsu.

Selain itu, lubang bekas tambang yang dibiarkan tanpa reklamasi terus mencemari aliran sungai, termasuk Sungai Mahakam yang setiap hari menanggung beban dari lalu lintas tongkang.

Memperingati 80 tahun merdeka, XR Bunga Terung Kaltim menyuarakan empat tuntutan utama:

  1. Menolak solusi palsu transisi energi yang masih bergantung pada fosil.
  2. Menghentikan penggunaan energi fosil seperti batubara, silika, dan nikel, serta beralih pada energi berkeadilan.
  3. Menindaklanjuti lubang tambang yang dibiarkan tanpa reklamasi sesuai aturan.
  4. Memulihkan ekosistem sungai dan menekan laju deforestasi serta alih fungsi lahan berlebihan.

Momentum 80 tahun merdeka seharusnya tidak hanya menjadi ajang pesta rakyat, tetapi juga refleksi tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Indonesia perlu merdeka bukan hanya dari penjajahan, tetapi juga dari krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan energi kotor.

Jika pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta bisa bergerak bersama, maka cita-cita Indonesia merdeka sepenuhnya bisa terwujud: rakyat sejahtera, lingkungan terjaga, dan generasi mendatang bisa menikmati bumi yang lebih sehat.

Itulah makna merdeka yang sebenarnya di abad ke-21. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version