Samarinda

Sepatu Kekecilan Renggut Nyawa Pelajar Samarinda, Kisah Haru Mandala

Avatar
902
Ilustrasi Sepatu. Ft by ist

 

 

 

 

 

Kaltimdaily.com, Samarinda – Peristiwa memilukan terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang pelajar bernama Mandala Rizky Syahputra (16), siswa kelas XI di SMK Negeri 4 Samarinda, meninggal dunia pada Jumat dini hari, 24 April 2026. Kondisi kesehatannya dilaporkan memburuk akibat penggunaan sepatu yang sudah tidak sesuai ukuran, sementara keterbatasan ekonomi membuatnya tidak mampu membeli sepatu baru.

Mandala diketahui tinggal bersama ibunya, Ratnasari (40), di kawasan Sungai Pinang Luar. Sang ibu bekerja sebagai penjual makanan dengan penghasilan terbatas dan menjadi satu-satunya penopang keluarga. Dalam keseharian, Mandala tetap mengenakan sepatu lama berukuran 40, meski ukuran kakinya telah mencapai 44. Untuk mengurangi tekanan, ia mengganjal bagian dalam sepatu menggunakan busa pembungkus buah.

Penggunaan sepatu yang tidak layak tersebut menyebabkan kondisi kaki Mandala semakin memburuk. Ia mengalami pembengkakan, luka lecet, hingga kemerahan, namun memilih bertahan tanpa banyak mengeluh. Situasi semakin berat saat ia mengikuti program magang di sebuah pusat perbelanjaan, yang menuntutnya berdiri dalam durasi panjang setiap hari.

Akibat tekanan terus-menerus dari sepatu sempit, luka pada kaki Mandala berkembang menjadi infeksi. Kondisi ini berdampak pada kesehatan tubuhnya secara keseluruhan, ditandai dengan menurunnya nafsu makan dan penurunan berat badan secara signifikan. Namun demikian, ia tetap menjalani aktivitas seperti biasa tanpa menunjukkan keluhan serius kepada keluarga.

Ironisnya, dari penghasilan magang sebesar Rp840 ribu, Mandala tidak menggunakan uang tersebut untuk membeli sepatu baru. Seluruh pendapatan justru diserahkan kepada ibunya untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Keinginan sederhana untuk memiliki sepatu yang layak sempat diungkapkan, tetapi belum dapat terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Pada malam kejadian, Mandala ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kediamannya sekitar pukul 01.00 WITA. Proses evakuasi sempat terkendala keterbatasan fasilitas, hingga akhirnya dibantu oleh pihak sekolah. SMK Negeri 4 Samarinda turut mengambil peran dalam penanganan jenazah hingga proses pemakaman.

Kasus ini kemudian mendapat perhatian dari TRC PPA Kalimantan Timur. Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menilai kejadian ini menjadi cerminan lemahnya pendataan sosial. Ia menyebut, kondisi tersebut menyebabkan bantuan bagi keluarga kurang mampu tidak tersalurkan secara tepat sasaran.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti kurangnya kepedulian dari sejumlah pihak terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar. Menurutnya, tragedi ini seharusnya dapat dicegah apabila ada intervensi lebih dini, baik dari institusi pendidikan maupun pemangku kebijakan terkait.

Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bahwa persoalan sederhana seperti sepatu dapat berdampak besar ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi. Kondisi tersebut sekaligus menegaskan masih adanya kesenjangan sosial yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Ke depan, peningkatan akurasi data keluarga kurang mampu menjadi hal krusial agar bantuan dapat menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Selain itu, peran aktif lingkungan sekolah dan masyarakat juga diperlukan dalam mendeteksi dini kondisi siswa yang membutuhkan bantuan. Dengan pengawasan dan kepedulian bersama, diharapkan setiap pelajar dapat menjalani pendidikan dengan layak tanpa terbebani persoalan mendasar.

Tragedi ini pada akhirnya menjadi pengingat kuat bahwa perhatian terhadap hal kecil seperti sepatu bukan sekadar kebutuhan pelengkap, melainkan bagian penting dari keselamatan dan kesejahteraan generasi muda. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version