Kaltimdaily.com, Entertain – Utusan Khusus Presiden untuk Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kembali menjadi perhatian publik setelah video kunjungannya ke kawasan terdampak banjir di Sumatera viral di media sosial. Dalam video tersebut, Zita, yang juga putri dari Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, terlihat tengah membantu warga membersihkan rumah mereka yang terendam lumpur akibat banjir.
Namun, meskipun niat baik Zita terlihat jelas, gaya mengepel yang ia lakukan justru menuai kritik. Dalam video tersebut, Zita tampak memegang pel dan mencoba mengepel lantai rumah seorang warga. Namun, teknik mengepel yang dilakukan dinilai kurang efektif, karena terlihat mendorong lumpur ke arah yang tidak tepat, bukannya mengarahkannya keluar rumah. Reaksi tersebut mendapat perhatian luas dari warganet, banyak di antaranya yang mempertanyakan kualitas bantuan tersebut.
Banyak netizen yang menganggap tindakan Zita terlihat canggung dan terkesan tidak alami. Beberapa komentar menyatakan bahwa aksi tersebut lebih mirip pencitraan daripada upaya tulus dalam membantu korban banjir. Kritik lebih lanjut menyebutkan bahwa Zita tampak kebingungan saat menggunakan alat kebersihan tersebut, yang semakin memperburuk kesan bahwa tindakan itu kurang memadai dan lebih terfokus pada kepentingan pribadi.
Insiden ini juga mengingatkan pada aksi serupa yang dilakukan oleh sang ayah, Zulkifli Hasan, yang sebelumnya juga terlihat turun tangan membersihkan area yang terendam banjir di tempat yang sama. Meski keduanya berniat baik, banyak publik yang merasa bahwa cara mereka dalam membantu tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, yaitu tindakan yang lebih efisien dan efektif dalam menghadapi bencana.
Aksi Zita ini mengundang perdebatan di media sosial, di mana masyarakat semakin kritis terhadap aksi para pejabat publik dalam situasi darurat. Publik, yang kini semakin sadar akan pentingnya keaslian dan kontribusi nyata, menilai bahwa banyak dari tindakan simbolis semacam ini lebih dilihat sebagai upaya pencitraan ketimbang langkah konkret untuk membantu masyarakat. Beberapa pihak bahkan menganggap bahwa meskipun tindakan ini bisa dianggap positif dalam niatnya, cara-cara seperti ini justru dapat merusak kredibilitas para tokoh publik di mata masyarakat.
Ke depan, masyarakat berharap agar para pejabat dan tokoh publik lebih fokus pada tindakan yang benar-benar dapat meringankan beban masyarakat, bukan sekadar menjadi pusat perhatian di media sosial. Penggunaan sumber daya secara efektif dan menyeluruh tentu akan lebih dihargai oleh korban bencana, yang membutuhkan bantuan nyata dan berkelanjutan.
Tindakan simbolis seperti yang dilakukan oleh Zita Anjani memang bisa memicu banyak perbincangan. Namun, penting untuk diingat bahwa dalam situasi bencana, yang lebih diharapkan adalah bantuan yang nyata dan tepat sasaran, bukan sekadar pencitraan. Apakah Anda setuju dengan kritik yang muncul terhadap aksi ini? (*)















