Krisis Guru di Samarinda: Kota Besar Juga Kena Imbas
Kaltimdaily.com, Samarinda – Jangan kira kekurangan guru cuma jadi masalah di pelosok doang. Kota Samarinda, yang notabene ibu kotanya Kalimantan Timur, ternyata juga lagi krisis tenaga pengajar. Hal ini bikin banyak pihak nanya-tanya: sebenernya gimana sih perencanaan pendidikan jangka panjang kita?
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, ngaku khawatir banget sama tren ini. Katanya, tiap tahun guru-guru pensiun, tapi rekrutmennya enggak sebanding sama kebutuhan. “Kalau kota sebesar Samarinda aja kekurangan guru, berarti emang ada yang salah dari perencanaannya. Kita ngomongin masa depan pendidikan, bukan cuma soal kuantitas,” ujar Novan, Selasa (30/7/2025).
Novan juga bilang, masalah ini enggak bisa dibebanin sepenuhnya ke Dinas Pendidikan aja. Saat ini yang pegang kendali soal pengembangan SDM guru tuh BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Jadi harus ada koordinasi lintas lembaga biar kebijakan yang dibuat enggak meleset dari sasaran.
Hal yang paling dikhawatirin adalah ketidaksesuaian antara jumlah guru yang dibutuhin di lapangan sama formasi yang dibuka saat rekrutmen. Kalau dibiarin terus, kualitas pendidikan bisa anjlok dan masa depan anak-anak kita pun jadi taruhan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda, Asli Nuryadin, juga buka suara soal krisis ini. Dia bilang kalau kekurangan guru masih jadi isu serius di banyak sekolah, baik SD maupun SMP. “Kita udah rutin mapping kebutuhan guru dan lapor secara resmi. Tapi urusan rekrutmen sekarang udah di tangan BPSDM provinsi,” jelasnya.
Menurut Asli, pihak Disdikbud Samarinda terus ngusulin formasi setiap tahun. Tapi sayangnya, pengisiannya enggak selalu sesuai harapan karena proses seleksi bukan wewenang mereka lagi. Dia juga setuju kalau solusi jangka panjang harus segera dirancang dan enggak boleh setengah-setengah.
DPRD dan Disdikbud pun sepakat kalau sistem pendidikan enggak bisa cuma ngisi kekosongan doang. Harus ada peningkatan kualitas guru juga biar generasi ke depan enggak jadi korban dari sistem yang amburadul.
Tanpa strategi yang jelas dan kerja sama antarinstansi, kota besar kayak Samarinda pun bisa terus terjebak dalam krisis pendidikan.
“Kita perlu sistem yang bukan cuma ngejar kuantitas guru, tapi juga kualitas. Kalau mau pendidikan berkelanjutan, SDM guru harus benar-benar disiapkan dari sekarang,” tutup Asli.
Kalau kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi konkret, bukan cuma sekolah yang bakal kelabakan—anak-anak juga bakal kehilangan haknya untuk dapat pendidikan berkualitas. Samarinda butuh gebrakan serius dalam menyusun strategi pengadaan guru, mulai dari sistem rekrutmen sampai peningkatan kompetensi.
Harapannya, ke depan enggak ada lagi cerita kekurangan guru, apalagi di kota sebesar Samarinda. Pemerintah, DPRD, dan semua stakeholder harus kompak mencari jalan keluar biar krisis pendidikan ini bisa segera diatasi. (*)

















