banner-sidebar
Balikpapan

Inflasi Balikpapan Juli 2026 Turun, Tekanan Harga Mulai Mereda

Avatar
894
×

Inflasi Balikpapan Juli 2026 Turun, Tekanan Harga Mulai Mereda

Share this article
Pangan. Ft by ist

Kaltimdaily.com, Balikpapan – Laju inflasi di Kota Balikpapan sepanjang Juli 2026 menunjukkan tren yang semakin terkendali. Meski masih mencatat inflasi secara bulanan, kenaikan harga barang dan jasa terjadi dengan laju yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan mulai meredanya tekanan inflasi di Balikpapan berkat penguatan pengendalian pasokan dan distribusi kebutuhan pokok.

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, inflasi bulanan Kota Balikpapan tercatat sebesar 0,25 persen (month to month/mtm). Sementara itu, inflasi tahunan atau year on year (yoy) mencapai 3,06 persen. Di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), inflasi bulanan berada di angka 0,28 persen, sedangkan inflasi tahunan tercatat 2,34 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil sinergi Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Upaya menjaga kelancaran distribusi, memastikan ketersediaan stok pangan, serta memperkuat stabilitas pasokan dinilai berhasil mengurangi tekanan harga di masyarakat.

Menurutnya, berbagai program pengendalian inflasi seperti Gerakan Pangan Murah, pasar murah, hingga operasi pasar turut memberikan dampak positif terhadap keterjangkauan harga kebutuhan pokok di Balikpapan dan wilayah sekitarnya.

Di Kota Balikpapan, inflasi pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi. Penyesuaian harga Pertamax, meningkatnya biaya pelumas dan jasa perawatan kendaraan, serta kenaikan harga bakso siap santap dan sawi hijau menjadi penyumbang utama inflasi bulan tersebut.

Kenaikan harga sawi hijau juga dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi akibat tingginya curah hujan. Kondisi tersebut menyebabkan distribusi sayuran ke Balikpapan menjadi lebih terbatas sehingga memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Di sisi lain, laju inflasi Balikpapan berhasil ditekan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Harga cabai rawit, tomat, bawang merah, emas perhiasan, hingga tarif angkutan udara tercatat mengalami penurunan. Melimpahnya pasokan hasil panen dari Pulau Jawa dan Sulawesi menjadi salah satu faktor yang mendorong stabilitas harga sayuran, sementara penyesuaian harga avtur domestik berkontribusi terhadap turunnya tarif penerbangan.

Berbeda dengan Balikpapan, inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara lebih banyak dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan harga daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, bensin, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar inflasi di daerah tersebut.

Terbatasnya pasokan ayam dari luar daerah serta menurunnya hasil tangkapan nelayan akibat gelombang tinggi menjadi faktor yang memicu kenaikan harga di PPU. Namun demikian, harga beberapa komoditas hortikultura seperti cabai rawit, tomat, buncis, jagung manis, dan kacang panjang justru mengalami penurunan seiring meningkatnya pasokan pada musim panen.

Bank Indonesia mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi pada paruh kedua 2026. Musim kemarau dan potensi penguatan fenomena El Nino diperkirakan dapat memengaruhi produksi pangan di Pulau Jawa yang selama ini menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan pangan untuk Balikpapan dan PPU. Selain itu, meningkatnya kebutuhan pangan seiring percepatan pelaksanaan Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga berpotensi meningkatkan permintaan pasar.

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Berbagai program seperti Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, hingga peningkatan produktivitas pertanian melalui TANI CAMP 2026 akan terus dioptimalkan guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.

Keberhasilan menjaga inflasi di Balikpapan menjadi salah satu indikator penting dalam mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Stabilitas harga juga diharapkan mampu menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif di tengah dinamika perekonomian nasional.

Dengan koordinasi yang semakin kuat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan distributor, pengendalian inflasi di Balikpapan diharapkan tetap berada dalam sasaran nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang stabil dan terjangkau.

Ke depan, penguatan ketahanan pangan dan kelancaran distribusi akan menjadi fokus utama dalam menjaga stabilitas ekonomi Balikpapan. Upaya tersebut diharapkan mampu mengantisipasi berbagai risiko eksternal sekaligus memperkuat fondasi ekonomi daerah di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika pasar global. (*)

Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih