Kaltimdaily.com, Internasional – HARGA MINYAK dunia kembali menguat pada awal pekan setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Meski demikian, optimisme pasar bahwa jalur distribusi melalui Selat Hormuz masih tetap beroperasi berhasil menahan kenaikan harga agar tidak melonjak lebih tajam.
Pada penutupan perdagangan 29 Juni, harga minyak mentah Brent naik 1,61 persen atau bertambah 1,16 dolar AS menjadi 73,15 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 2,2 persen atau menguat 1,52 dolar AS hingga berada di level 70,75 dolar AS per barel.
Penguatan harga minyak terjadi setelah memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat dan Iran akibat aksi saling serang yang berlangsung pada akhir pekan. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru bahwa proses perdamaian yang sebelumnya mulai terbentuk dapat kembali terganggu sehingga meningkatkan risiko terhadap rantai pasok energi dunia.
Fokus utama pelaku pasar masih tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak mentah global. Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan dan mendorong volatilitas harga minyak internasional.
Meski kembali menguat, harga Brent sebenarnya masih mencatat penurunan sekitar 10,6 persen dibanding pekan sebelumnya. Koreksi tersebut dipengaruhi meningkatnya volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam beberapa hari ke depan, perhatian investor diperkirakan akan tertuju pada pertemuan teknis antara delegasi Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas implementasi kesepakatan damai sementara yang sebelumnya telah dicapai kedua negara.
Di waktu yang sama, Iran bersama Oman juga akan melakukan pembahasan mengenai pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keamanan jalur pelayaran internasional sekaligus mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi.
Sejumlah analis menilai ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia mulai menunjukkan tren pemulihan. Volume pengiriman diperkirakan telah mencapai sekitar tiga perempat dari kondisi sebelum konflik kembali meningkat.
Meski demikian, aktivitas distribusi dinilai belum sepenuhnya normal. Ancaman keamanan terhadap kapal tanker, keterbatasan kapasitas pengiriman, serta tingginya biaya asuransi masih menjadi tantangan yang membayangi proses pemulihan pasar energi global.
Analis energi Mizuho Bank, Bob Yawger, menilai normalisasi distribusi minyak membutuhkan waktu lebih lama dibanding perkiraan awal. Menurutnya, risiko keamanan di jalur pelayaran masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia.
Di sisi lain, produsen energi di kawasan Timur Tengah mulai meningkatkan aktivitas ekspor guna menjaga pasokan global. Saudi Aramco diketahui kembali melakukan pemuatan minyak di terminal Ras Tanura sejak 26 Juni setelah sempat menghentikan operasinya selama hampir empat bulan.
Kembalinya aktivitas ekspor dari sejumlah negara produsen memberikan sinyal positif bagi pasar. Namun, pelaku industri tetap berhati-hati karena situasi geopolitik di kawasan masih berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan mendatang diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Setiap dinamika baru di kawasan Timur Tengah berpotensi langsung memengaruhi sentimen investor di pasar energi global.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan permintaan energi dunia seiring membaiknya aktivitas ekonomi di sejumlah negara. Kombinasi antara pasokan dan permintaan diperkirakan akan menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek.
Bagi negara-negara pengimpor minyak, fluktuasi harga ini menjadi perhatian serius karena dapat berdampak terhadap inflasi, biaya logistik, hingga harga bahan bakar domestik. Sementara bagi negara produsen, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan pendapatan dari sektor energi.
Dengan ketidakpastian yang masih membayangi kawasan Timur Tengah, pasar energi diperkirakan tetap bergerak volatil. Investor dan pelaku industri akan terus mencermati setiap perkembangan diplomatik maupun kondisi keamanan di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. (*)















