banner-sidebar
Nasional

Fatwa Haram Sound Horeg, Karnaval 17 Agustus Makin Panas!

Avatar
1207
×

Fatwa Haram Sound Horeg, Karnaval 17 Agustus Makin Panas!

Share this article
Sound Horeg. Ft by Ist

Sound Horeg Bikin Geger Jelang HUT RI, Warga Pro-Kontra Sampai Ribut di Medsos!

Kaltimdaily.com, Nasional – Akhir Juli biasanya jadi momen rame banget di berbagai sudut Indonesia. Jalanan mulai dihiasi warna merah putih dari bendera, umbul-umbul, sampai aksesoris khas 17an.

Pedagang dadakan pun muncul di pinggir jalan sambil berharap dagangannya laris manis diborong warga yang mau ikut semarak HUT Kemerdekaan RI ke-80.

Biasanya, kemeriahan 17an diisi dengan lomba lucu-lucuan, kerja bakti, sampai karnaval yang penuh kreativitas dan budaya lokal. Tapi tahun ini, khususnya di beberapa wilayah Jawa Timur, perhatian warga malah kebagi ke satu tren baru yang lagi viral: Sound Horeg.

Buat yang belum tau, Sound Horeg itu sebutan buat sistem audio raksasa yang suaranya bikin kuping getar. Biasanya dipasang di atas truk gede dan dihias lampu-lampu warna-warni, terus keliling kampung sambil muter musik jedag-jedug. Asalnya dari kata “horeg” dalam Bahasa Jawa, yang artinya bergetar atau bergerak. Gak heran, pas lewat, tanah aja bisa ikutan goyang!

Masalahnya, tren ini gak cuma bikin warga terhibur, tapi juga bikin pusing. Banyak yang bilang ini hiburan kreatif dan bisa ngangkat ekonomi warga. Tapi gak sedikit juga yang ngomel karena volume sound horeg yang super keras sampai bikin kaca rumah pecah, plafon ambruk, bahkan bayi rewel semalaman!

Sound Horeg vs Tradisi, Siapa yang Menang?

Dulu, karnaval 17an itu identik sama parade budaya: baju adat, kendaraan hias, musik tradisional, sampai penampilan anak sekolah yang lucu-lucu.

Sekarang, banyak yang ngerasa tradisi itu mulai “diserobot” sama truk-truk sound system yang isinya joget, musik keras, bahkan kadang ada yang bawa minuman keras.

Salah satu kejadian yang nyita perhatian ada di Desa Donowarih, Karangploso, Malang, di mana pemerintah desa malah ngimbau warga yang sakit, anak-anak, dan lansia buat menjauh dari lokasi sound horeg. Banyak yang nyinyir, katanya kok malah yang lemah yang disuruh minggir, bukan acaranya yang dibatasi.

Kerusakan fasilitas umum juga mulai dilaporin. Ada jembatan yang dibongkar biar truk sound bisa lewat, gapura rusak, jalanan jadi macet. Gak berhenti di situ, beberapa rumah warga sampai rusak karena suara sound horeg yang tembus lebih dari 100 desibel. Bayangin aja, tengah malam bisa tiba-tiba kaca rumah pecah atau genteng rontok gegara suara jedag-jedug!

MUI Jatim Angkat Suara: Sound Horeg Dinyatakan Haram

Gak cuma warga yang ngomel, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur juga akhirnya turun tangan. Setelah rapat bareng ahli kesehatan, polisi, tokoh masyarakat, dan perwakilan sound horeg, mereka resmi ngeluarin Fatwa Haram Sound Horeg. Tepatnya lewat Fatwa MUI Jatim Nomor 1 Tahun 2025.

Menurut Sekretaris MUI Jatim, Hasan Ubaidillah, kegiatan sound horeg ini lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. “Ganggu ketertiban, bahaya buat kesehatan, dan sering disisipi kemaksiatan. Ini bukan cuma soal volume, tapi juga soal moral,” tegasnya.

Sebelum fatwa itu keluar, Pondok Pesantren Besuk di Pasuruan juga udah lebih dulu ngelarang sound horeg. Alasannya sama: meresahkan warga dan ganggu ketenangan kampung.

Fenomena sound horeg ini jadi bukti kalau budaya baru dan tradisi lama kadang bisa saling bertabrakan. Di satu sisi, ada yang pengen meriah dan tampil beda. Tapi di sisi lain, banyak yang masih pengin mempertahankan kesederhanaan dan nilai budaya yang lebih adem di hati.

Yang jelas, semua pihak perlu bijak menyikapi tren ini. Pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga harus cari jalan tengah.

Jangan sampai euforia perayaan HUT RI malah bikin ribut sendiri. Bukankah kemerdekaan seharusnya dirayakan dengan sukacita, bukan saling menyakiti? (*)

Maaf guys, kalian tidak bisa melakukan copy paste dari situs ini. Terima kasih