Samarinda

Bunuh Diri di Kalangan Remaja Samarinda: Waspadai Tanda dan Cara Membantu

Avatar
1118
Ilustrasi. Ft by Ist

Tekanan Mental pada Remaja di Samarinda: Waspada Gejala dan Pentingnya Penanganan Dini

Kaltimdaily.com, Samarinda – Kecenderungan bunuh diri atau tindakan harakiri dapat menyerang siapa saja, khususnya remaja yang kesulitan mengelola stres berkepanjangan. Dr. Sri Purwatiningsih, psikiater di RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda, menjelaskan bahwa tekanan psikologis yang terus berlangsung berisiko memicu rasa putus asa sehingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.

Menurut dr. Sri, tanda-tanda awal yang perlu mendapat perhatian orang tua dan pendamping adalah perubahan perilaku yang jelas: ekspresi wajah yang sering tampak murung, kehilangan minat terhadap kegiatan yang dulu disenangi, perubahan pola tidur, atau mudah merasa lelah. Jika remaja mulai mengutarakan gagasan bunuh diri, langkah segera yang dianjurkan adalah menghubungi layanan medis atau tenaga kesehatan jiwa untuk evaluasi dan intervensi profesional.

Komunikasi terbuka dalam keluarga menjadi salah satu upaya pencegahan yang krusial. Dukungan emosional dan ruang aman bagi remaja untuk menyampaikan perasaan dapat membantu membangun mekanisme koping yang sehat. Dr. Sri menegaskan bahwa percakapan tentang bunuh diri harus dipandang sebagai kondisi darurat yang memerlukan respons cepat dari orang dewasa dan profesional kesehatan.

Fenomena melukai diri sendiri (self-harm) juga sering dijumpai sebagai cara remaja meredakan tekanan emosi yang sulit diungkapkan. Meski tindakan tersebut terkadang bukan bermaksud mengakhiri hidup, tanpa penanganan kondisi psikologis yang mendasari—seperti depresi—risikonya dapat meningkat menjadi ide atau tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, penanganan dini dan konseling profesional sangat dianjurkan.

Dr. Sri menyampaikan bahwa kesadaran remaja di Samarinda untuk mencari bantuan profesional menunjukkan tren positif; semakin banyak anak-muda yang datang atas inisiatif sendiri untuk berkonsultasi. Namun demikian, faktor risiko tetap beragam—mulai gangguan kesehatan mental, pengalaman perundungan di sekolah, hingga riwayat keluarga—dan membutuhkan pendekatan terpadu antara sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan.

Kelompok usia yang rentan umumnya berada di rentang 12–19 tahun, dan data menunjukkan perempuan memiliki risiko melukai diri diri atau mengalami ide bunuh diri lebih tinggi sekitar 1,5 kali dibanding laki-laki. Kurangnya validasi emosional sejak kecil juga dapat membuat remaja kesulitan mengekspresikan perasaan secara sehat, sehingga intervensi edukatif mengenai keterampilan regulasi emosi sejak dini perlu ditingkatkan di Samarinda.

Jika Anda atau orang dekat menunjukkan tanda-tanda bahaya—seperti pembicaraan tentang ingin mati, mencari cara untuk melukai diri, atau perubahan perilaku yang drastis—segera hubungi layanan kesehatan terdekat. Di Samarinda, rumah sakit jiwa dan fasilitas kesehatan mental seperti RSJD Atma Husada Mahakam dapat menjadi rujukan awal; bila dalam kondisi darurat, segera datangi IGD rumah sakit terdekat atau hubungi layanan darurat setempat.

Pencegahan bunuh diri bukan hanya tugas tenaga kesehatan—melainkan tanggung jawab bersama keluarga, sekolah, dan masyarakat di Samarinda. Meningkatkan literasi kesehatan mental, menyediakan akses konseling yang mudah dijangkau, serta menumbuhkan budaya empati dalam lingkungan anak-muda akan sangat membantu menekan angka kejadian tragis tersebut.

Dengan tindakan cepat dan dukungan yang tepat, banyak remaja yang bisa pulih dan kembali menemukan harapan. Investasi pada layanan kesehatan jiwa dan program pencegahan di Samarinda adalah langkah nyata untuk melindungi generasi muda dan membangun komunitas yang lebih tangguh secara psikologis. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version