Kaltimdaily.com, Samarinda – Sebuah insiden kekerasan mengguncang Jalan Ir H Juanda 2, Samarinda, pada Selasa (16/12/2025) malam, ketika seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial AG mengalami luka parah akibat serangan seorang pria bernama A (25) menggunakan parang.
Kejadian ini terjadi secara tiba-tiba ketika keluarga yang sedang berkumpul di rumah tersebut dikejutkan dengan aksi brutal A yang menyerang AG dengan senjata tajam.
Kapolsek Samarinda Ulu, AKP Wawan Gunawan, menyatakan bahwa A diduga sedang mengalami halusinasi dan melihat penampakan makhluk gaib. Dalam keadaan tersebut, A meyakini AG sebagai sosok yang bukan manusia, yang memicu serangan tersebut.
Serangan yang berlangsung cepat menyebabkan AG terluka parah, dengan robek di beberapa bagian tubuh, termasuk kepala, serta luka serius pada pergelangan tangan kiri yang putus akibat sabetan parang sepanjang 40 cm.
Saksi yang berada di halaman belakang rumah mendengar keributan dan segera masuk untuk memeriksa, menemukan AG tergeletak di lantai dengan luka-luka yang sangat mengkhawatirkan. A, dalam kondisi emosi tinggi, melanjutkan aksinya dengan mengejar anggota keluarga lainnya sambil membawa parang. Beruntung, ayah A yang mendengar keributan berhasil menenangkan putranya dan menghindari korban lebih banyak lagi.
Petugas kepolisian dan ambulans yang tiba di lokasi segera mengevakuasi AG ke Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie untuk mendapatkan perawatan medis intensif. A, pelaku penganiayaan, ditangkap oleh aparat sekitar pukul 00.10 WITA.
Setelah dilakukan pemeriksaan, terungkap bahwa A memiliki riwayat gangguan jiwa dan pernah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Oleh karena itu, pihak kepolisian memutuskan untuk membawanya kembali ke rumah sakit jiwa guna pemeriksaan lebih lanjut.
Kasus ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, karena gangguan jiwa yang dialami oleh pelaku diduga menjadi faktor utama dalam insiden tragis ini. Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat akan perlunya meningkatkan kesadaran akan gangguan mental, agar insiden serupa bisa lebih cepat terdeteksi dan ditangani.
Semoga kejadian ini mendorong adanya langkah preventif yang lebih baik dalam mengelola kesehatan mental di masyarakat. (*)















