Kaltimdaily.com, Samarinda – Kota Samarinda berhasil menjaga tingkat inflasi tetap terkendali, dengan catatan 2,70% pada Desember 2025.
Angka ini berada dalam rentang aman yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, yaitu antara 1,5% hingga 3,5%. Capaian ini menggambarkan stabilitas ekonomi yang baik di Kota Tepian, meski menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Wakil Wali Kota H. Saefuddin Zuhri, SE, MM memimpin langsung perwakilan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam Rakor Pengendalian Inflasi yang digelar secara virtual pada Senin, 12 Januari 2026. Rakor nasional ini membahas evaluasi kinerja daerah serta langkah-langkah antisipatif yang akan diambil untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga beberapa komoditas utama menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Pemantauan harga sejumlah komoditas menjadi salah satu fokus utama dalam rapat koordinasi tersebut. Cabai rawit, cabai merah, bawang putih, dan telur ayam ras menjadi perhatian khusus karena harganya yang cenderung fluktuatif. Hingga saat ini, harga cabai rawit tercatat Rp67.500 per kilogram, cabai merah besar Rp42.500 per kilogram, dan bawang merah Rp45.500 per kilogram.
Pemkot Samarinda terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk kelompok tani, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, serta Perumda Varia Niaga, untuk memastikan pasokan pangan tetap aman dan harga tidak melonjak tajam. Selain itu, stok beras Bulog dipastikan mencukupi hingga menjelang Lebaran, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan bahan pokok.
Samarinda yang dikenal dengan daya konsumsi yang cukup tinggi menjelang Idulfitri, tetap berkomitmen menjaga kestabilan ekonomi daerah. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor terkait dalam memastikan ketahanan pangan sangat penting guna menjaga daya beli masyarakat agar tidak terpengaruh oleh kenaikan harga yang signifikan. Pemerintah juga berharap agar langkah-langkah preventif ini dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat Samarinda.
Dalam upaya menjaga kesejahteraan masyarakat, Pemkot Samarinda tak hanya mengandalkan pengendalian harga pangan, tetapi juga terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait, seperti distributor dan pedagang pasar, untuk memastikan kelancaran distribusi barang. Dengan demikian, diharapkan potensi inflasi yang disebabkan oleh lonjakan harga barang-barang pokok dapat diminimalisir, sehingga stabilitas ekonomi kota dapat tetap terjaga dengan baik.
Dengan tindakan yang cepat dan koordinasi yang solid, Samarinda kini semakin siap menghadapi tantangan ekonomi di tahun 2026. Pemerintah daerah juga berharap agar kebijakan ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga keseimbangan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ke depan, program-program penanggulangan inflasi yang lebih masif akan terus dijalankan untuk memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati manfaat dari kestabilan ekonomi yang terjaga. (*)















