Kaltimdaily.com, Samarinda – Musibah longsor Samarinda makin bikin waswas! Kali ini dampaknya sampai ke Komplek Pemakaman Cempaka di Jalan Pangeran Suryanata, Kelurahan Air Hitam, Samarinda Ulu. Total ada 35 makam yang ikut terdampak akibat tanah yang geser sampe 5 meteran, lho!
Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, langsung turun tangan bareng tim dan para ahli waris buat evakuasi jenazah yang kena dampak. “Hari ini kita evakuasi 9 jenazah, dan lubang barunya udah disiapin,” ujar Suwarso. Tim juga udah siapin ekskavator buat buka lubang baru dan ngebantu proses relokasi.
Tapi, evakuasi ini nggak bisa sembarangan. Harus hati-hati dan kolaborasi total dari semua pihak mulai dari Damkar, Satpol-PP, Dinas Perkim, BPBD, sampai para relawan. Semua jenazah diusahakan dipindahkan sesuai posisi awal, biar tetep sesuai prosedur dan menghormati ahli waris.
“Dari penggalian makam lama, sore ini rencananya dua lagi akan kita evakuasi. Kita gabungin antara alat berat dan tenaga manual,” tambah Suwarso.
Sementara itu, longsor Samarinda juga menerjang wilayah lain, termasuk Samarinda Seberang. Kawasan Mangkupalas dan Perumahan Kledang Mas jadi titik rawan yang butuh penanganan cepat. Camat Aditya Koesprayogi bilang, beberapa tebing di Teluk Bajau pernah longsor sejak 2021, dan sampai sekarang masih jadi ancaman serius.
“Setiap hujan, kita standby. Longsor di Teluk Bajau bisa ganggu pengendara yang lewat. Kita koordinasi terus sama polisi buat alihin arus kalau tanah longsor turun tiba-tiba,” kata Aditya.
Gak cuma jalan, beberapa pemukiman seperti RT 14 Mangkupalas juga diawasi ketat. Masalahnya, akses jalan sempit bikin alat berat susah masuk. Solusinya, mereka pakai dana Probebaya buat bikin parit, biar air nggak langsung bikin tanah jenuh dan longsor.
Khusus di Kledang Mas, longsornya malah terjadi di bawah permukaan tanah, yang bikin penanganannya makin ribet. Lokasinya milik perusahaan, jadi pemerintah nggak bisa asal turun tangan. Tapi komunikasi tetap jalan buat cari solusi bersama.
Menurut BPBD, tanah di kawasan itu udah dalam kondisi jenuh dan rawan makin parah. Pemerintah berharap pihak swasta ikut andil dalam rekayasa teknis biar longsor nggak makin meluas dan makin bahaya buat warga sekitar.
Kejadian longsor Samarinda ini jadi pengingat penting buat semua pihak bahwa keselamatan warga dan penghormatan terhadap makam pun harus diprioritaskan dalam penanganan bencana. Terutama di musim hujan kayak gini, kesiapsiagaan harus 24 jam non-stop.
Warga juga diajak aktif lapor kalau lihat potensi longsor di sekitar rumah atau jalanan. Karena penanganan bencana itu bukan cuma tugas pemerintah, tapi juga butuh dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Jangan tunggu parah dulu baru bertindak! (*)







