Kaltimdaily.com, Internasional – Pemerintah Iran memberikan izin kepada kapal tanker minyak asal Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz setelah melalui proses komunikasi diplomatik antara kedua negara. Kapal tersebut bersama awaknya kini tengah dipersiapkan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan apresiasi atas langkah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang dinilai telah membantu memastikan kelancaran pelayaran. Ia menilai koordinasi bilateral menjadi kunci dalam menjaga stabilitas jalur distribusi energi di kawasan tersebut.
Anwar juga menyoroti bahwa meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu rantai pasok energi global. Namun demikian, Malaysia disebut masih memiliki ketahanan energi yang cukup berkat peran perusahaan energi nasional, Petronas, dalam menjaga pasokan minyak dan gas.
Keberhasilan serupa juga dialami Thailand. Pemerintah negara tersebut memastikan kapal tanker milik Bangchak Corporation dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah menjalin komunikasi intensif dengan otoritas Iran. Hal ini terjadi tidak lama setelah insiden serangan terhadap kapal berbendera Thailand di kawasan tersebut.
Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup sepenuhnya, tetapi akses pelayaran diberlakukan secara selektif. Negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik baik atau melakukan koordinasi dengan Teheran, seperti China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, masih diberikan izin melintas dengan pengawalan keamanan.
Sebaliknya, kapal yang berasal dari negara yang dianggap terlibat dalam konflik, termasuk Amerika Serikat dan Israel, tidak diperkenankan melewati jalur strategis tersebut. Iran menyatakan bahwa kondisi kawasan saat ini masih dalam situasi konflik, sehingga pengawasan terhadap lalu lintas laut diperketat.
Data pelayaran menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz. Dari sebelumnya lebih dari seratus kapal per hari, kini hanya tersisa sekitar lima hingga enam kapal. Sejumlah kapal juga memilih jalur alternatif yang lebih panjang demi menghindari risiko keamanan di kawasan tersebut.
Di sisi lain, dua kapal tanker milik Indonesia, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di wilayah Teluk Arab dan belum memperoleh izin melintas. Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri terus melakukan komunikasi diplomatik dengan Iran untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya.
Pertamina menyatakan kondisi tersebut belum berdampak pada pasokan energi nasional karena dukungan armada yang memadai. Meski demikian, perkembangan situasi di Selat Hormuz terus dipantau secara ketat mengingat kawasan ini merupakan jalur vital distribusi energi dunia.
Ketegangan di Selat Hormuz diperkirakan masih akan memengaruhi stabilitas pasar energi global dalam waktu dekat. Para pelaku industri dan negara-negara pengimpor minyak kini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga energi.
Ke depan, upaya diplomasi internasional dinilai menjadi faktor kunci dalam menjaga keterbukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Stabilitas kawasan tidak hanya penting bagi negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga bagi perekonomian global yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi energi. (*)

















