BerauKaltim

Uang Reboisasi Ada, Tapi Hutan Masih Gundul?

Avatar
805
Lubang tambang yang menganga di daerah aliran Sungai Kelay. (Jatam)

Kaltimdaily.com, Berau – Kabupaten Berau sebenarnya punya modal gede buat menghijaukan hutan lagi.

Lewat Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam – Dana Reboisasi (DBH-DR), uang yang masuk ke APBD Berau 2025 tembus Rp2,6 triliun!

Itu udah lebih dari setengah total pendapatan transfer dari pusat yang mencapai Rp4,3 triliun, lho.

Dari total itu, royalti hasil tambang batu bara nyumbang paling besar, yakni Rp2,3 triliun. Sementara DBH untuk sawit sekitar Rp7,8 miliar dan untuk kehutanan Rp7,3 miliar.

Lumayan banget kan, kalau dipakai buat reboisasi?

Sayangnya, menurut Kasi PKSDA dan Pemberdayaan Masyarakat KPHP Berau Barat, Edhuwin, duit sebanyak itu belum dimaksimalkan buat penghijauan. Padahal, ancaman banjir makin parah.

“Anggarannya ada, tapi jangan cuma ngendap. Harusnya bisa dirasain langsung manfaatnya sama warga,” katanya.

Kerusakan hutan di Berau, terutama akibat tambang dan perkebunan, makin hari makin bikin pusing.

Tapi sayangnya, penanganannya masih setengah-setengah dan belum terintegrasi. Padahal, menurut Edhu, reboisasi itu nggak bisa instan. Satu pohon aja butuh pengawalan panjang, bahkan sampai 3 tahun!

Di KPHP Berau sendiri, setiap kali ada program bagi-bagi bibit gratis ke warga, mereka juga nyiapin pendampingan intens. Mulai dari pemantauan lewat aplikasi geo-tagging sampai laporan berkala dari pengelola lahan.

“Pohon itu bukan cuma ditanam terus ditinggal. Harus diawasin tumbuhnya, dicek terus. Kita bahkan punya sistem pelaporannya,” ujar Edhu.

Yang jadi PR sekarang adalah kolaborasi. Edhu bilang, semua pemangku kepentingan kudu duduk bareng—DLH, KPHP, komunitas lingkungan, sampai kepala daerah. “Kita ini sebenarnya kurang ngopi bareng aja. Padahal panduan dan datanya udah ada semua,” celetuknya.

Dia juga nyorot kawasan Blok 8 di hutan Kelay yang udah gundul parah. Area ini posisinya deket banget sama aliran sungai dan jadi salah satu penyebab banjir di kampung-kampung kayak Long Lanuk, Tumbit Dayak, dan Bena Baru.

Nggak cuma di hulu, daerah hilir kayak Kampung Pegat Batumbuk juga perlu perhatian serius. Kawasan mangrove di sana makin terkikis gara-gara pembukaan tambak. Padahal, mangrove itu tameng alami buat nahan air laut biar nggak masuk ke aliran sungai.

“Makanya jangan heran kalau tiba-tiba banjir, padahal langit lagi cerah-cerahnya,” sindir Edhu.

Kalau semua pihak bisa bersatu, bukan cuma banjir yang bisa dicegah, tapi juga masa depan lingkungan bisa diselamatkan. Soalnya hutan itu bukan cuma soal sekarang, tapi juga soal warisan buat anak cucu kita nanti.

Udah saatnya dana reboisasi dimanfaatkan beneran, bukan cuma jadi angka di atas kertas. Biar hutan kembali ijo dan warga Berau bisa tidur nyenyak tanpa takut kebanjiran. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version