Kaltimdaily.com – Pemerintah Indonesia mencatat penurunan angka kemiskinan hingga titik terendah dalam sejarah. Namun, di balik capaian tersebut, tantangan besar dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.(Bisnis.com)
Capaian Positif dalam Penurunan Kemiskinan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa per September 2024, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 24,06 juta orang atau setara 8,57% dari total populasi. Angka ini menurun dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 9,03% (25,22 juta orang) dan menjadi yang terendah sejak penghitungan dimulai pada 1960 .
Perbedaan Standar Kemiskinan
Meski demikian, Bank Dunia menggunakan standar yang berbeda dalam mengukur kemiskinan. Dengan ambang batas pengeluaran per kapita sebesar US$6,85 per hari, sekitar 60,3% penduduk Indonesia atau sekitar 172 juta orang masih tergolong miskin . Perbedaan ini menyoroti tantangan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Tantangan dalam Pengembangan SDM
Selain kemiskinan, pengembangan SDM menjadi fokus utama pemerintah. Program makan bergizi gratis yang diluncurkan pada awal 2025 bertujuan untuk mengatasi masalah malnutrisi, terutama pada anak-anak dan ibu hamil. Namun, program ini menghadapi tantangan dalam hal pendanaan dan implementasi. Pemerintah membutuhkan tambahan anggaran sekitar Rp100 triliun untuk memperluas jangkauan program ini hingga akhir 2025.
Menuju Indonesia Emas 2045
Presiden Prabowo Subianto menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem pada 2026 dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045 . Namun, pencapaian target ini memerlukan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas SDM dan memastikan program-program pemerintah berjalan efektif dan tepat sasaran.
Dengan capaian positif dalam menurunkan angka kemiskinan, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan. Namun, tantangan dalam pengembangan SDM dan perbedaan standar kemiskinan menuntut perhatian serius agar visi Indonesia Emas 2045 dapat terwujud secara inklusif dan berkelanjutan. (RY)







