Kaltimdaily.com, Nasional – Pergantian pucuk pimpinan di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) oleh Presiden RI Prabowo Subianto menjadi sorotan luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Sri Mulyani Indrawati resmi digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa, sosok yang sebelumnya menjabat Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Posisi Menteri Keuangan dianggap sangat strategis karena berperan besar dalam menentukan arah kebijakan ekonomi nasional.
Media internasional turut menyoroti keputusan tersebut. Reuters, kantor berita berbasis di London, menulis artikel berjudul “Indonesia Replaces Respected Finance Minister With Economist Promising Rapid Growth”. Dalam artikelnya, Reuters menyoroti kiprah Purbaya saat memimpin LPS, serta pidatonya pada 20 Agustus lalu yang menekankan pentingnya pemerataan pembangunan demi tercapainya keadilan sosial.
Ia juga sempat mengingatkan kembali gagasan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo, ayah Presiden Prabowo, yang dikenal sebagai ekonom dan menteri pada masa Orde Baru.
Purbaya sendiri menyampaikan ambisi besar untuk membawa Indonesia ke arah pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Ia menargetkan laju pertumbuhan berada di kisaran 6 hingga 7 persen. “Saya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi 6% hingga 7%,” ujar Purbaya dengan penuh optimisme.
Sorotan juga datang dari Channel News Asia (CNA) yang berbasis di Singapura. Dalam artikel berjudul “Indonesian Finance Minister Sri Mulyani Removed as Prabowo Reshuffles Cabinet Following Weeks of Protests”, CNA menyoroti latar belakang akademis Purbaya yang mengantongi gelar master dan doktor di bidang ekonomi dari Purdue University, Amerika Serikat. Selain itu, ia juga berpengalaman memimpin perusahaan pialang milik negara, Danareksa Securities.
Meski demikian, CNA mencatat bahwa pergantian Sri Mulyani tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik belakangan ini. Keputusan reshuffle dilakukan setelah gelombang demonstrasi besar yang terjadi pada akhir Agustus berujung kericuhan. Massa bahkan sempat menyerbu kediaman pribadi Sri Mulyani di Tangerang Selatan.
Aksi tersebut memperbesar tekanan publik terhadap pemerintah dan diyakini menjadi salah satu pemicu utama perombakan kabinet.
Kini, perhatian publik tertuju pada langkah konkret Purbaya dalam menjaga stabilitas fiskal sekaligus mewujudkan target pertumbuhan ambisius yang ia canangkan. Namun demikian, tantangan ekonomi global dan dinamika domestik dipastikan akan menguji strategi serta konsistensinya di kursi Menteri Keuangan.
Di tengah ekspektasi tinggi masyarakat, kehadiran Purbaya di Kemenkeu juga akan menjadi tolok ukur bagi kredibilitas pemerintahan Prabowo dalam mengelola ekonomi nasional.
Jika ia mampu menyeimbangkan kebutuhan fiskal dengan pertumbuhan yang inklusif, maka kepercayaan publik dan investor terhadap Indonesia diprediksi akan semakin meningkat.
Sebaliknya, bila target pertumbuhan tidak tercapai dan kebijakan fiskal dianggap tidak efektif, risiko ketidakstabilan ekonomi bisa saja terjadi. Oleh karena itu, publik menaruh harapan besar agar Purbaya tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka makroekonomi, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat di semua lapisan benar-benar terwujud. (*)











