Kaltimdaily.com, Bontang – Awalnya cuma ngeluh sakit kepala. NU (39), ibu dari anak perempuan 13 tahun itu, mikir anaknya cuma kecapekan atau masuk angin. Nggak mikir aneh-aneh, dia langsung bawa si anak ke Puskesmas buat diperiksa.
Tapi hasil medis justru bikin langit runtuh buat NU. Dokter bilang anaknya hamil. Udah jalan 3 bulan. Tangis NU langsung pecah di lorong Puskesmas. Bukan cuma karena anaknya hamil, tapi karena pelakunya bukan orang jauh—melainkan suaminya sendiri, alias ayah tiri dari si anak.
Hari itu juga, Sabtu (21/6/2025), NU langsung gercep lapor ke Polres Bontang. Ia nggak bisa tenang, nggak bisa tidur. Laporan resmi langsung dibuat. Polisi gerak cepat, dan seminggu kemudian—Jumat (27/6)—pelaku berinisial RS berhasil diamankan.
Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Hari Supranoto, bilang pihaknya sangat serius menangani kasus ini karena korbannya masih di bawah umur. “Kami tangani kasus ini dengan sangat hati-hati. Ini soal anak, dan masa depannya,” ucap Hari.
Korban sekarang lagi dalam penanganan khusus. Trauma mendalam jelas dirasakan. Apalagi, kasus kayak gini bukan cuma soal kriminal, tapi soal kemanusiaan. Rumah yang harusnya jadi tempat paling aman, malah jadi tempat paling menyeramkan buat korban.
Kejadian ini bikin warga Bontang geram dan sedih. Banyak yang berharap agar proses hukum berjalan seadil-adilnya, tanpa celah untuk pelaku lolos dari hukuman maksimal. Publik juga mendesak agar perlindungan terhadap anak diperkuat, terutama dalam lingkungan rumah tangga.
Pihak kepolisian menegaskan, RS bakal dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman berat. Sementara itu, NU dan anaknya bakal terus didampingi secara psikologis dan hukum agar bisa bangkit dari tragedi kelam ini. Bontang kini kembali diingatkan bahwa predator bisa saja tinggal serumah. (*)











