Saham Asia Menguat Awal Pekan, Didukung Data Inflasi China dan Sektor Teknologi
Kaltimdaily.com, Bisnis – Pasar saham Asia dibuka menguat pada awal pekan ini, ditopang oleh dua faktor utama: meredanya tekanan pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan rilis data inflasi China yang lebih baik dari perkiraan. Kedua faktor tersebut memicu optimisme baru di kalangan investor terhadap prospek ekonomi kawasan, terutama di sektor teknologi yang sempat mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir.
Data resmi menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) China pada Oktober 2025 naik 0,2 persen secara tahunan (yoy), melampaui ekspektasi pasar yang memproyeksikan kenaikan 0,1 persen. Peningkatan kecil namun signifikan ini menunjukkan mulai pulihnya permintaan domestik di Negeri Tirai Bambu, sekaligus menandakan bahwa kebijakan stimulus ekonomi yang diterapkan pemerintah mulai memberikan hasil konkret.
Hingga pukul 08.15 WIB, bursa utama Asia mencatatkan penguatan serentak. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1,97 persen ke level 4.031,83, didorong oleh penguatan saham sektor perbankan dan asuransi. Di Jepang, Nikkei 225 naik 0,58 persen ke 50.565,95, sementara ASX 200 Australia turut menguat 0,33 persen ke posisi 8.798,40. Kenaikan di berbagai bursa tersebut memperlihatkan kembalinya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Asia Pasifik.
Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan setelah menutup perdagangan akhir pekan lalu di level 8.394, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Analis menilai tren positif IHSG masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, didorong oleh faktor musiman akhir tahun atau fenomena window dressing, di mana pelaku pasar memperindah portofolio investasinya sebelum tutup tahun.
Aksi beli diperkirakan masih mendominasi pasar, terutama pada saham berkapitalisasi besar dan sektor keuangan yang menjadi incaran investor asing. Secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak di kisaran 8.350–8.450, dengan peluang menembus level psikologis 8.400 sebagai sinyal kelanjutan tren bullish menuju akhir tahun.
Kenaikan pasar saham Asia ini turut memperkuat pandangan bahwa sentimen global mulai beralih dari kekhawatiran resesi menuju optimisme pemulihan ekonomi. Dengan data inflasi China yang stabil dan kinerja sektor teknologi yang mulai membaik, investor global kini menilai kawasan Asia memiliki potensi pertumbuhan paling menjanjikan pada kuartal terakhir 2025.
Jika momentum positif ini berlanjut, para analis memperkirakan pasar saham Asia dapat menjadi magnet bagi arus modal asing. Faktor dukungan kebijakan fiskal di sejumlah negara, serta tren suku bunga yang mulai melandai, diprediksi akan menjaga stabilitas pasar regional hingga memasuki tahun 2026. (*)











