Balikpapan

Inflasi Balikpapan Tercatat 1,15%, Lebih Rendah dari Inflasi Nasional

Avatar
987
Aerial Kota Balikpapan. Ft by Ist.

Kaltimdaily.com, Balikpapan – Pada bulan September 2025, Kota Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,06 persen (mtm), sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatatkan inflasi sebesar 0,07 persen (mtm). Data tersebut dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan dianalisis oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.

Secara tahunan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di Balikpapan tercatat sebesar 1,15 persen (yoy), yang lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 2,65 persen dan rata-rata inflasi empat kota besar di Kalimantan Timur yang tercatat 1,77 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyebutkan bahwa realisasi inflasi di Balikpapan masih berada di bawah sasaran inflasi nasional tahun 2025, yang ditargetkan sebesar 2,5 persen ±1 persen. Deflasi yang terjadi di Balikpapan banyak dipengaruhi oleh kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT) dengan kontribusi sebesar 0,16 persen. Beberapa komoditas utama yang menyumbang deflasi adalah BBRT, bawang merah, tomat, cabai rawit, dan kangkung, yang harga-harganya menurun karena efisiensi distribusi dan pasokan yang melimpah dari sentra produksi.

Di sisi lain, inflasi di Balikpapan didorong oleh sektor Transportasi, yang berkontribusi sebesar 0,14 persen. Kenaikan harga terbesar terjadi pada angkutan udara, daging ayam ras, emas perhiasan, air kemasan, dan biskuit. Tarif angkutan udara mengalami kenaikan setelah masa diskon berakhir, sedangkan harga emas perhiasan meroket hingga Rp2,1 juta per gram akibat tren global yang mempengaruhi harga komoditas tersebut.

Di PPU, inflasi tahunan tercatat sebesar 2,83 persen (yoy), dengan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi, terutama dari kenaikan harga daging ayam ras dan ikan. Kenaikan harga ikan dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan akibat gelombang laut tinggi.

Di sisi lain, PPU juga mencatatkan deflasi pada beberapa komoditas, seperti bawang merah dan cabai rawit, yang harganya turun berkat melimpahnya produksi lokal.

Bank Indonesia terus memantau potensi risiko inflasi yang dapat terjadi di masa mendatang, seperti gangguan pasokan akibat cuaca buruk dan gelombang laut tinggi. Meskipun demikian, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Balikpapan tercatat 118,3, meskipun sedikit menurun dari 129,8 pada bulan Agustus. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada sedikit penurunan, optimisme konsumen di Balikpapan tetap tinggi.

Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas harga dengan melakukan pemantauan ketat terhadap harga barang serta menjalin kerjasama antar daerah untuk menjaga kestabilan ekonomi.

Kedepannya, meskipun inflasi di Balikpapan terbilang terkendali, penting bagi masyarakat dan pelaku ekonomi untuk tetap waspada terhadap perubahan kondisi pasar dan cuaca yang dapat memengaruhi harga-harga kebutuhan pokok. Diharapkan, kolaborasi antara pemerintah, bank sentral, dan masyarakat dapat menjaga kestabilan harga di daerah ini untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version