BerauKaltimSamarinda

Ia Menjual Emas, Menunda Mimpi Kuliah, dan Tak Pernah Berhenti Memulai Lagi

Avatar
15

Kaltimdaily.com, Berau – Ada orang yang menyimpan emas untuk masa depan. Ada pula yang melepasnya demi sebuah mimpi. Hernani Astuti memilih jalan kedua. Satu per satu gelang dan kalung yang selama bertahun-tahun disimpannya dijual. Bukan untuk berfoya-foya, bukan pula untuk melunasi utang. Seluruh hasil penjualannya berubah menjadi gaun pengantin, pelaminan sederhana, kursi resepsi bekas, dan perlengkapan salon yang kala itu belum tentu mendatangkan pelanggan.

Dari ruang kecil tanpa nama, lahirlah Tuti Salon, sebuah usaha yang selama hampir tiga dekade menjadi saksi ribuan pasangan mengawali kehidupan baru di Jalan Sungai Buluh, Rinding, Kabupaten Berau.

Namun bagi Tuti sapaan akrabnya, salon hanyalah satu bab dari perjalanan panjang seorang perempuan yang tidak pernah berhenti memulai dari nol.

Kini, di usia 60 tahun, ia masih sibuk membuat tas rotan, melukis jilbab, merajut karung goni menjadi produk bernilai, membimbing pelaku UMKM, hingga berbagi ilmu kepada generasi muda. Ketika banyak orang seusianya menikmati masa pensiun, Tuti justru kembali menemukan mimpi-mimpi baru.
“Selama masih sehat, saya ingin terus berkarya,” ucapnya.

Tuti adalah anak kedua dari sebelas bersaudara pasangan almarhum Haji Adji Pitro dan almarhumah Hj Noor Sammah. Sang ayah merupakan pelukis kaca terbalik yang namanya begitu dihormati di Berau pada era 1980-an. Di rumah sederhana mereka, seni bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Kalau bakat melukis memang dari bapak. Hampir semua adik saya juga melukis,” kenangnya.

Setiap hari saat bersekolah di SMP Negeri 1 Tanjung Redeb, Tuti harus menyeberangi Sungai Segah dari Gunung Tabur. Saat itu belum ada fasilitas penyeberangan seperti sekarang.
Ia dan teman-temannya berdiri di tepian sungai sambil berteriak memanggil perahu yang kebetulan melintas. Kalau beruntung, mereka diantar menyeberang. Kalau tidak, mereka harus menunggu lebih lama.

Usai lulus SMA pada 1987, ia menyimpan keinginan melanjutkan pendidikan. Namun mimpi itu harus dikubur. Orang tuanya memilih menikahkannya dengan Hamdani, pria asal Samarinda yang bekerja di sektor pertanian.
Banyak orang mungkin berhenti bermimpi titik itu. Tuti justru memulai mimpi yang lain. Ia menekuni dunia tata rias, meski belum memiliki salon, perlengkapan, bahkan pelanggan.

Kesempatan pertama datang ketika anak seorang lurah di Labanan akan menikah. Saat itu keluarga mempelai sebenarnya telah memiliki perias. Tetapi Tuti terus meyakinkan mereka.

“Saya cuma bilang, beri saya kesempatan. Saya ingin orang tahu kalau saya juga bisa merias.”

Hasilnya di luar dugaan. Riasannya menuai pujian. Dari satu pelanggan, namanya menyebar ke pelanggan lain. Tanpa iklan, tanpa media sosial, Tuti Salon tumbuh dari cerita mulut ke mulut.

Saat pesanan mulai berdatangan, tantangan berikutnya muncul. Ia tidak memiliki modal. Maka perhiasan emas yang dimilikinya dijual sedikit demi sedikit. Pelaminan dibeli bekas. Kursi resepsi bekas. Gaun pengantin pun dibeli sesuai kemampuan.

“Saya beli apa yang sanggup dulu. Yang penting usaha tetap jalan.”
Ada yang meragukan usahanya. Ada pula yang menganggap perlengkapan bekas tidak akan membawa pelanggan. Namun waktu membuktikan sebaliknya. Selama hampir tiga puluh tahun, ribuan pasangan mempercayakan hari paling sakral mereka kepada tangan Tuti.
Rumahnya bahkan berubah menjadi markas kecil setiap menjelang peringatan Hari Kemerdekaan. Puluhan anak datang membawa kostum pawai.

“Bisa sampai 60 anak menginap di rumah supaya pagi-pagi selesai dirias. Memang capek, tapi saya senang melihat mereka bahagia,” katanya sambil tersenyum.

Yang membuat masyarakat semakin menghormatinya bukan hanya keterampilan merias. Ia dikenal sering menurunkan tarif ketika mengetahui calon pengantin berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan tak jarang, keuntungan bukan lagi menjadi pertimbangan.
“Saya ingin mereka tetap bisa menikah dengan baik. Rezeki itu nanti pasti ada jalannya.”

Sekitar sepuluh tahun lalu, Tuti memutuskan menutup lembaran sebagai perias pengantin. Banyak yang mengira itulah akhir perjalanannya.Mereka keliru. Ia kembali memulai dari nol. Kali ini di dunia properti.
Sebanyak 80 unit rumah dibangunnya di Sambaliung. Proyek itu berjalan baik hingga pandemi Covid-19 menghentikan pengembangannya.

Sekali lagi, Tuti tidak memilih menyerah. Ia kembali membuka pintu baru melalui UMKM. Tangannya yang dahulu merias wajah pengantin kini mengubah kain tenun, rotan, kulit kayu, kulit sapi, hingga karung goni menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
Salah satu tantangan terberat datang ketika ia menerima pesanan 400 tas handmade untuk kebutuhan suvenir sebuah ajang olahraga. Seluruh tas dibuat tanpa mesin.

“Semuanya dikerjakan dengan tangan. Siang malam kami kerjakan sampai selesai.”

Kini produk-produk buatannya telah dipasarkan hingga Jakarta sebagai produk khas Berau. Di tengah kesibukan itu, kehidupan kembali mengujinya. Selama hampir satu dekade terakhir, Tuti setia merawat suaminya yang sakit.
Di saat bersamaan, ia tetap mengikuti pelatihan Dekranasda, membuka kelas kerajinan, menjadi narasumber, dan terus belajar menciptakan produk-produk baru.

Prestasi pun mengiringi langkahnya. Ia pernah meraih Juara I Tata Rias se-Kalimantan Timur, Juara Busana Kartini, hingga dinobatkan sebagai Ratu Kebaya Kabupaten Berau pada 2004.
Namun, jika ditanya pencapaian yang paling membanggakan, jawabannya bukanlah piala ataupun gelar. Melainkan kenyataan bahwa hingga hari ini, ia masih bisa berkarya.

Sebab bagi Hernani Astuti, hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dimiliki. Melainkan seberapa berani seseorang melepaskan sesuatu demi mimpi yang lebih besar.

Ia pernah kehilangan kesempatan kuliah. Ia pernah menjual seluruh emasnya. Ia pernah memulai usaha berkali-kali dari nol. Dan setiap kali kehidupan memaksanya memulai lagi, perempuan itu selalu berhasil membuktikan satu hal, mimpi tidak pernah mengenal usia, selama keberanian untuk memulainya masih ada.(*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version