Kaltimdaily.com, Balikpapan – Balikpapan lagi-lagi jadi bahan omongan netizen gara-gara ada tagihan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) nyampe Rp 9 juta yang bikin warga kaget bukan main. Kasus ini langsung viral di medsos dan bikin banyak orang heran, apalagi setelah salah satu warga, Arief, curhat tagihannya naik drastis dari Rp 306 ribu jadi Rp 9,5 juta.
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud akhirnya angkat bicara soal heboh ini. Dia menjelaskan kalau semua itu sebenarnya cuma kesalahan teknis koordinat. “Ada yang viral, Pak Arief kemarin yang katanya Rp9 juta, itu sebenarnya salah titik koordinat dan sudah dikoreksi, bayarnya tidak segitu. Cuma Rp600 ribu saja,” jelas Rahmad saat diwawancara media, Jumat (22/8/2025).
Rahmad juga minta masyarakat buat nggak langsung panik kalau ada tagihan yang aneh-aneh. Katanya, warga bisa langsung klarifikasi dulu ke pihak terkait. “Kalau belum puas dengan jawabannya, silakan komplain, bahkan ke Ombudsman juga boleh,” tambahnya.
Biar kondisi tetap adem, Pemkot Balikpapan mutusin buat nunda penyesuaian tarif NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) PBB-P2 untuk tahun 2025. Menurut Rahmad, langkah ini diambil sesuai instruksi Menteri Dalam Negeri sekaligus buat jaga kondusivitas di masyarakat.
“Kami memutuskan untuk menunda penyesuaian tarif NJOP PBB-P2 tahun 2025 demi menjaga kondusivitas dan mencegah keresahan di masyarakat,” tegasnya. Nah, buat warga yang keburu bayar pakai tarif baru, Pemkot Balikpapan udah siapkan mekanisme kompensasi yang bakal diberlakukan di pembayaran tahun 2026.
Ternyata, kenaikan tarif PBB ini memang nggak merata. Fokusnya ada di kawasan industri, zona komersial, sampai area yang terdampak pembangunan infrastruktur baru kayak Jembatan Tol Kariangau. Jadi, wajar kalau beberapa titik alami lonjakan nilai pajak yang signifikan.
Sebelumnya, kasus Arief sempat bikin geger lantaran tagihan PBB tanah seluas 1 hektarnya tiba-tiba melonjak 3.000%. “Saat saya lihat SPPT, ternyata jumlah tagihan Rp 9,5 juta. Saya kaget sekali karena biasanya hanya Rp 306 ribu,” curhatnya.
Dari kasus ini, Pemkot Balikpapan berharap masyarakat bisa lebih tenang dan nggak gampang percaya info mentah di medsos sebelum ada klarifikasi resmi. Pemerintah juga janji bakal lebih teliti dalam memvalidasi data supaya nggak ada lagi warga yang kena kasus salah koordinat kayak gini.
Ke depannya, kebijakan soal PBB di Balikpapan diproyeksikan lebih transparan dan komunikatif. Dengan begitu, warga bisa lebih paham tentang aturan pajak, dan nggak ada lagi cerita kaget gara-gara angka yang bikin jantungan. (*)











