Kaltimdaily.com, Bisnis – Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren kenaikan pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta). Lonjakan harga ini dipengaruhi kekhawatiran terganggunya pasokan dari Rusia, menyusul serangan drone Ukraina terhadap kilang energi, serta ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan memangkas suku bunga.
Minyak mentah Brent tercatat naik sebesar USD 1,03 atau 1,53 persen menjadi USD 68,47 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat USD 1,22 atau 1,93 persen ke posisi USD 64,52 per barel. Sehari sebelumnya, Brent ditutup pada level USD 67,44 dan WTI di USD 63,30 per barel.
Serangan yang dilakukan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia dinilai sebagai strategi untuk melemahkan mesin perang Moskow. Menurut analis JP Morgan, target penting seperti terminal ekspor minyak di Primorsk berpotensi menghambat penjualan minyak Rusia ke pasar internasional, sehingga memperketat suplai global. “Serangan ini menandai meningkatnya upaya untuk mengganggu pasar minyak internasional,” jelas JP Morgan.
Goldman Sachs mencatat, serangan tersebut diperkirakan memangkas kapasitas penyulingan Rusia sekitar 300 ribu barel per hari pada Agustus. Meski demikian, produksi Rusia diperkirakan tidak terlalu terdampak karena permintaan dari negara-negara Asia, khususnya China dan India, tetap tinggi.
Pemerintah Amerika Serikat turut menyoroti posisi China sebagai salah satu pembeli utama minyak Rusia. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Washington tidak akan memberlakukan tarif tambahan terhadap barang impor China, kecuali jika Eropa mengambil langkah yang sama terhadap China dan India.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada rapat The Fed yang dijadwalkan pada 16-17 September. Penurunan suku bunga biasanya mendorong konsumsi energi, namun kekhawatiran terkait kondisi ekonomi Amerika Serikat membuat optimisme pasar masih terbatas.
Di samping itu, data stok minyak Amerika Serikat menjadi fokus lain. Berdasarkan perkiraan analis, persediaan minyak mentah berkurang sekitar 6,4 juta barel pada pekan yang berakhir 12 September, setelah sebelumnya meningkat 3,9 juta barel. Survei Reuters menunjukkan bahwa stok bensin kemungkinan ikut menurun, sementara persediaan distilat justru berpotensi meningkat.
Kondisi tersebut membuat harga minyak global bergerak fluktuatif, dengan faktor geopolitik, kebijakan moneter, serta prospek permintaan energi dunia menjadi penentu utama arah pasar.
Ke depan, analis memproyeksikan pasar minyak akan tetap menghadapi ketidakpastian tinggi. Jika konflik Rusia-Ukraina terus bereskalasi dan kebijakan The Fed cenderung longgar, maka harga minyak berpotensi melanjutkan tren kenaikan. Namun, apabila kondisi ekonomi global melemah, lonjakan harga bisa tertahan oleh turunnya permintaan.
Situasi ini menunjukkan pentingnya diversifikasi energi dan penguatan cadangan strategis. Dengan langkah tersebut, negara-negara konsumen dapat lebih siap menghadapi gejolak harga minyak dunia yang masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. (*)











