Tekno

Beijing Gencet Nvidia Gara-Gara Chip AI H20, Ada Dugaan Backdoor

Avatar
871
CEO NVidia. Ft by AP

Beijing Lagi Panas, Nvidia Kena Semprot Gara-Gara Chip AI H20

Kaltimdaily.com, Teknologi – Tanggal 31 Juli 2025, dunia teknologi heboh gara-gara langkah nekat Administrasi Siber China alias CAC. Mereka manggil Nvidia buat klarifikasi soal dugaan “backdoor” di chip AI H20 yang katanya berpotensi ngebocorin data pengguna. CAC nggak cuma minta omongan doang, tapi juga dokumen teknis lengkap.

Drama ini makin panas karena sebelumnya, Senator AS Tom Cotton sempat ngusulin biar chip ekspor dipasang pelacak lokasi, biar gampang ngawasin pemakaiannya. Bagi Beijing, ini bukan sekadar masalah teknis, tapi udah masuk ke level perang dingin teknologi antara AS dan China.

Chip H20 ini sebenernya dibuat khusus buat pasar China demi nurutin aturan ekspor AS yang udah ketat sejak 2022, terus makin parah di 2023. Tapi, April 2025, AS malah nge-ban total penjualannya ke China. Akibatnya, Nvidia buntung sampai US$5,5 miliar gara-gara stok numpuk nggak laku. Juli 2025, tiba-tiba larangan dicabut usai deal rahasia terkait akses mineral langka. Bahkan kabarnya, CEO Nvidia Jensen Huang sempat ketemu langsung sama Presiden AS Donald Trump sebelum izin ekspor dikasih lagi. Setelah itu, TSMC langsung kebanjiran order 300 ribu unit H20 dari China.

Nah, baru aja larangan dicabut, Beijing lewat CAC langsung ngegas nyelidikin chip H20. Mereka curiga fitur pelacak lokasi di chip ini bisa dipake buat nyolong data riset AI sampai informasi militer. Walaupun China udah coba bikin chip sendiri, kayak Ascend 910D buatan Huawei, performanya masih kalah jauh dibanding H20. Jadi, mau nggak mau, ketergantungan Beijing ke Nvidia masih gede banget.

Sebenernya, Beijing udah sering banget ngerem perusahaan teknologi AS. Tahun 2023, mereka ngelarang Micron masuk ke infrastruktur vital, dan di 2024 Intel sempat kena sorotan soal keamanan. Bahkan sejak akhir 2024, Nvidia udah kena investigasi soal janji akses teknologi pasca akuisisi Mellanox.

Kalau dilihat dari sisi ekonomi, drama ini ngefek langsung ke rantai pasok global. Waktu dilarang ekspor, Nvidia jelas rugi, tapi begitu dibuka lagi, TSMC yang untung besar. Kalau Beijing makin ketat sama regulasi, Huawei punya peluang gede buat rebut pasar, walau kapasitas produksinya belum sanggup memenuhi semua permintaan. Bagi konsumen dunia, imbasnya jelas: harga elektronik bisa melambung tinggi.

Dari kacamata geopolitik, ini bukti kalau industri chip global makin terbelah. AS udah ngegelontorin US$52 miliar lewat CHIPS Act, sedangkan investasi chip di Beijing naik 40% sepanjang 2024. Masalahnya, perpecahan kayak gini malah bikin inovasi global jadi nggak efisien.

Terbaru, AS bahkan mewajibkan Nvidia dan AMD setor 15% pendapatan penjualan chip di China ke pemerintah Washington. Strategi ini jelas buat ngejaga kendali pasar sekaligus narik keuntungan ekonomi. Kasus H20 ini akhirnya jadi simbol kalau chip itu bukan cuma soal teknologi, tapi udah naik kelas jadi senjata politik dan ekonomi di panggung global.

Kalau situasi ini berlanjut, bukan nggak mungkin konsumen bakal ngerasain langsung efeknya dalam bentuk gadget yang lebih mahal dan inovasi yang keluar lebih lambat. Beijing pastinya nggak mau terus-terusan di posisi defensif, dan bisa jadi mereka bakal dorong riset dalam negeri biar nggak tergantung sama teknologi luar.

Dengan panasnya hubungan Beijing dan Washington soal chip ini, dunia teknologi bisa makin kebagi dua kubu. Jadi, bukan cuma para pejabat yang pusing, tapi juga para pemain industri sampai pengguna biasa yang bakal kena imbasnya. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version