Balikpapan

Balikpapan Tegang, Aksi Solidaritas Berujung Insiden

Avatar
1024
Aksi Puluhan Mahasiswa di Balikpapan. Ft by ist

Kaltimdaily.com, Balikpapan – Aksi solidaritas mahasiswa yang berlangsung di Balikpapan pada Selasa sore (31/3/2026) diwarnai ketegangan. Demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Balikpapan Bersuara tersebut awalnya bertujuan menyampaikan dukungan terhadap aktivis HAM, Andrie Yunus, namun berujung ricuh setelah peserta aksi mengaku mengalami intimidasi dari pihak tidak dikenal.

Aksi di Balikpapan itu semula direncanakan berlangsung di kawasan Taman Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), yang berada di depan Kodam VI/Mulawarman. Namun, rombongan mahasiswa mengaku dihadang saat dalam perjalanan menuju lokasi, sehingga memicu situasi yang semakin memanas di lapangan.

Ketegangan di Balikpapan meningkat ketika terjadi adu argumen antara peserta aksi dengan sejumlah pihak. Kondisi tersebut kemudian berujung pada dugaan tindakan kekerasan fisik yang dialami sejumlah mahasiswa.

Koordinator lapangan aksi di Balikpapan, Jusliadin, mengaku menjadi salah satu korban dalam insiden tersebut. Ia menyebut mengalami tendangan, sementara beberapa peserta lain diklaim sempat ditarik secara paksa oleh oknum yang tidak diketahui identitasnya.

Insiden dalam aksi Balikpapan ini memicu kekecewaan di kalangan mahasiswa. Mereka menilai kebebasan berekspresi yang seharusnya dijamin dalam demokrasi justru mengalami pembatasan di lapangan.

Aksi di Balikpapan ini merupakan respons atas kasus yang menimpa Andrie Yunus pada 12 Maret 2026 di Jakarta Pusat. Aktivis tersebut menjadi korban penyiraman zat kimia berbahaya oleh orang tak dikenal setelah mengangkat isu sensitif terkait dugaan keterlibatan militer dalam ranah sipil. Peristiwa tersebut menyebabkan korban mengalami luka serius pada wajah, tangan, dan mata.

Dalam orasi yang disampaikan di Balikpapan, mahasiswa juga menyinggung sejumlah kasus pelanggaran HAM yang dinilai belum terselesaikan. Mereka menilai potensi keterlibatan militer dalam urusan sipil dapat menjadi ancaman bagi prinsip demokrasi.

Melalui mimbar bebas di Balikpapan, Aliansi Balikpapan Bersuara menyampaikan tiga tuntutan utama. Mereka mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus penyiraman terhadap Andrie Yunus secara transparan, meminta pembentukan tim investigasi independen oleh Presiden dengan melibatkan masyarakat sipil, serta menolak penggunaan mekanisme peradilan militer dalam penanganan perkara tersebut.

Mahasiswa menegaskan bahwa aksi di Balikpapan merupakan bentuk kepedulian terhadap penegakan hukum dan perlindungan demokrasi. Mereka berharap kasus yang menimpa Andrie Yunus dapat diselesaikan secara adil tanpa intervensi pihak mana pun.

Peristiwa di Balikpapan ini menjadi pengingat pentingnya menjaga ruang kebebasan berpendapat di tengah masyarakat. Aksi mahasiswa diharapkan dapat menjadi bagian dari kontrol sosial yang konstruktif dalam mendorong penegakan hukum yang transparan.

Ke depan, berbagai pihak diharapkan mampu menahan diri dan mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan pandangan. Dengan demikian, dinamika demokrasi di Balikpapan dapat tetap berjalan secara sehat dan berimbang tanpa mengorbankan hak-hak sipil masyarakat. (*)

Udah tau belum? Kaltimdaily.com juga ada di Google News lhooo..

Site Info Site Info
Exit mobile version